Optimalisasi Fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, Dedie Rachim Bahas Tantangan Pendidikan Kota Bogor

Screenshot 20260820 175705 1

BOGORCHANNEL.ID– Optimalisasi Peran Dewan Pendidikan Kota Bogor, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan tantangan untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan di Kota Bogor.

Tantangan di sektor pendidikan yang perlu dihadapi bersama ini disampaikan dalam Sarasehan Pendidikan Kota Bogor 2026 yang digelar di Gedung PPM, Jalan Binamarga, Kamis (20/8/2026).

Mengusung tema “Optimalisasi Fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah”, sarasehan ini diharapkan bisa menghimpun berbagai masukan, usulan, maupun inovasi di sektor pendidikan.

Dedie Rachim mengatakan, berbicara mengenai pendidikan akan berujung pada sebuah proses menghasilkan anak-anak Indonesia Emas yang akan memperbaiki kehidupan keluarga dan Indonesia di masa mendatang.

Namun faktanya, di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kota Bogor, masih tercatat adanya pengangguran terbuka, angka putus sekolah, serta angka rata-rata lama sekolah.

“Apakah matching antara pendidikan dengan dunia pekerjaan? Apakah memang pendidikan yang ada di Bogor menjawab kebutuhan industri maupun kebutuhan riil dari bidang-bidang usaha yang ada di Bogor? Jadi memang ini sebuah pertanyaan besar yang harus nanti dijawab juga oleh dewan pendidikan pada sarasehan ini,” ungkapnya.

Sehingga untuk menghadapi tantangan itu, yang perlu disiapkan pada sektor pendidikan adalah supply dengan demand.

Untuk anak putus sekolah, bisa difasilitasi melalui program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) melalui pendataan di tingkat RT/RW. Kemudian untuk pengangguran terbuka, bisa diintervensi melalui dorongan agar dapat mengisi sektor-sektor yang dibutuhkan sesuai kapasitas yang dimiliki pencari kerja.

“Jadi bisa penyalurannya ke industri yang tepat. Kan kebutuhannya tadi saya sampaikan ada kebutuhan di kafe, restoran, hotel, hiburan. Nah, jangan-jangan yang dibutuhkan bukan penjahit, jangan-jangan yang dibutuhkan bukan juru las, tapi jangan-jangan yang dibutuhkan adalah barista. Jadi coba ke sana, atau hospitality industri lain, ada misalnya housekeeping dan lain sebagainya. Itu riil kebutuhannya. Jadi jangan kemudian pendidikannya tidak nyambung dengan kebutuhan realitas,” ujarnya.

Selain itu, setiap pelajar juga bisa dibekali kemampuan bahasa asing. Hal tersebut untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara yang saat ini mengalami kekurangan usia produktif.

Sehingga peluang-peluang di tingkat daerah, regional, nasional, hingga internasional bisa diisi oleh angkatan kerja dari Indonesia maupun daerah. (*Ist)

Comments are disabled