Tingkatkan Kesadaran Lingkungan, LPM UNJ Latih Puluhan Ibu Mejlis Taklim dan Mahasiswa


B-CHANNEL, TAMANSARI– Bertajuk “Meningkatkan Kesejahteraan Untuk Ibu Majelis Tak’lim, Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengadakan pelatihan peningkatan kesadaran lingkungan. Kegiatan bekerja sama dengan Majelis Ra`lim Rumah Qur`an Ar-Risalah dan didukung Puskemas Kebon Jati diikuti lebih dari 30 peserta terdiri dari Ibu Majelis Taklim dan Mahasiswa. Acara berlangsung di Desa Sirnagalih Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Sabtu ( 09/11/19), kemarin.

Dalam acara, para peserta mendapat pembekalan materi tentang bagaimana mengelola sampah berbasis masyarakat. Seteleah itu diikuti dengan praktik memanfaatkan sampah yang sudah tidak berguna dan diolah agar dapat dimanfaatkan kembali.

“Setelah selesai praktik, maka dilanjutkan pembekalan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) oleh staf Puskesmas Tamansari. Dengan antusias peserta mengkuti pelatihan hingga sampai akhir. Bahkan pihak Puskesmas mengusulkan untuk membuat kerjasama karena kegiatan pelatihan ini menunjang program puskesmas sirnagalih,” ujar Penanggung Jawab kegiatan, Dr. Rudi Iskandar, M.Si yang juga Dosen Pendidikan Geografi UNJ, kepada bogorchannel.id, Minggu (10/11/19).

Lebih lanjut diungkapkan Rudi, pelatihan dilakukan didasari banyaknya persoalan yang dihadapi oleh masyarakat, yang salah satunya kelompok ibu Majelis Taklim. Utamanya, sebagai akibat menurunnya kualitas lingkungan seperti permasalahan sampah dan kebersihan lingkungan.

Menurut Dia, rendahnya kesadaran masyarakat itu sendiri disebabkan karena berbagai faktor diantaranya, faktor ketidaktahuan, faktor kemiskinan dan gaya hidup.

“Faktor ketidaktahuan ini artinya masyarakat memang belum mengerti akan pentingnya menjaga kualitas lingkungan hidup untuk mendukung kehidupannya kan kehidupan generasi mendatang,”kata Rudi.

Sambung Rudi, faktor ketidaktahuan juga dapat berarti kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyebab permasalahan lingkungan, pengaruh perilaku masyarakat terhadap kondisi lingkungan sekitar, serta cara pengelolaan lingkungan hidup.

“Oleh karenanya, diperlukan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuannya akan pentingnya pelestarian lingkungan hidup,”imbuhnya.

Selain itu, terang Rudi, faktor kemiskinan. Dijelaskan dia, kemiskinan adalah suatu keadaan ketidak mampuan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum. Kemiskinan terjadi akibat dari kekurangan bahan pangan, kekurangan bahan pangan di sebabkan oleh beberapa sebab antara lain ledakan penduduk, serta buruknya pengelolaan sumber daya alam.

Termasuk, faktor gaya hidup. Faktor gaya hidup dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang saat ini. Banyak masyarakat yang telah memiliki pengetahuan yang cukup tentang lingkungan hidup namun tetap tidak memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan hidup, terutama dalam hal pengelolaan sampah dan penggunaan energi dengan bijak. Pemborosan energi terus terjadi untuk memenuhi gaya
hidup masyarakat. Penggunaan AC secara berlebihan, penggunaan kendaraan pribadi, efek rumah kaca merupakan beberapa contoh kecil dari faktor gaya hidup tersebut.

“Berangkat dari permasalahan tersebut, maka perlu adanya peningkatan kesadaran lingkungan kepada masyarakat tentang pentingnya lingkungan hidup, terutama pada anakanak dan remaja. Saat ini peningkatan kesadaran lingkungan hidup untuk generasi muda dirasa sangat penting agar dapat menumbuhkan kesadaran akan lingkungan hidup. Capacity building ini dilakukan dengan metode penyuluhan dan pelatihan kepada generasi muda sehingga generasi muda dapat menerapkan perilaku ramah lingkungan pada kehidupan sehari-hari,”tutupnya. (*)

Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *