PD PPJ: 20 Agustus PKL Jalan Roda Direlokasi

IMG 20190808 001204

B-CHANNEL, KOTA BOGOR-  Keluhan eks Pedagang Suryakencana karena sepi pembeli ditanggapi Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ). Pihaknya berjanji akan merelokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Jalan Roda sehingga akan menggairahkan perekomian di Pasar Sukasari.

Dirops PD PPJ Kota Bogor Deni Ari Wibowo mengaku, beberapa waktu lalu telah ngecek lokasi, mengenai rencana pembangunan pedestrian di Jalan Suryakencana. Dan menurutnya jika pembanguna dimulai maka PKL di Pasar Bogor harus steril.

“Kemarin jalan sama pak wali dan pembangunan pedestrian akan di mulai September, berarti semua pedagang akan di relokasi ke Pasar Sukasari,” kata Deni kemarin.

Diakui Deni, dalam rekokasi tersebut pihaknya hanya memfisilitasi menyediakan lahan untuk relokasi.

“Kami PD Pasar hanya memfasilitasi saja, jadi semua pedagang di Jalan roda akan direlokasi minimal Tanggal 20 Agustus,” ujarnya.

Disinggung soal banyaknya pungutan yang membebani para pedagang yang nilainya hampir mencapai Rp50 ribu permalam dia menjelaskan bahwa pungutan resmi yang masuk ke PD PPJ hanya uang keamanan, kebersihan dan jasa pelayanan.

Tetapi ia membenarkan adanya pungutan dana pembangunan auning yang di kelola pihak ke tiga dan disetujui PD PPJ.

“Kalau PD itu hanya narik uang kebersihan Rp3.000 uang keamanan Rp3.000 dan uang jasa pelayanan sebeaar Rp9.000. Kalau iuran listrik tidak sama kami dan auning itu dibangun swadaya tidak dibiayai sama kita dan dikelola pihak ke tiga tapi disetujui PD Pasar,” ungkapnya.

Menyikapi keluhan pedagang tersebut, ia mengaku akan memanggil Kepala Unit Pasar Sukasari untuk dikoordinasikan.

“Kami akan panggil kanitnya dan akan dikoordinasikan dengan para pedaggang, kira-kira apa saja pungutan yang memberatkan pedagang itu dan nanti bagaimana solusinya,” pungkasnya.

Senelumya kordinator lapangan (korlap) pedagang Sukasari Hari mengaku kondisi pasar selalu sepi dari pembeli, bahkan sudah banyak pedagang yang gulung tikar karena kehabisan modal.

Menurut dia, sepinya Pasar Sukasari karena janji Pemkot merelokasi semua pedagang dari Pasar Bogor hanya omong kosong.

Diakui dia, awalnya Pemkot janji pedagang Pasar Bogor akan di relokasi semua, tapi faktanya ratusan pedagang dibiarkan berjualan di Jalan Roda.

Menurut dia, pedagang di Jalan Roda jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan. Anehnya lagi lanjut dia, Satpol PP hanya diam bahkan terkesan membiarkan mereka tetap berjualan.

Masih kata dia, kondisi pasar yang sepi dari pembeli itu telah diadukan berkali-kali ke PD PPJ, namun para pedagang selalu di beri harapan palsu alias PHP. Yakni dijanjikan bahwa semua pedagang di Jalan Roda akan direlokasi ke Pasar Sukasari supaya Pasar Sukasari ramai pembeli.

“Kami dijanjikan sejak Maret. janjinya pedagang Jalan Roda akan dibersihkan dan direlokasi ke Pasar Sukasari tapi tidak jelas,

terus janji lagi katanya Pemilu, janji lagi setelah lebaran dan terakhir janjinya tanggal 20 Agustus,” ungkapnya.

Bahkan, mereka mengancam kalau misalnya Tanggal 20 Agustus PD PPJ tidak merealisasikan janjinya merekokasi pedagang Jalan Roda mereka berjanji akan demo atau pindah lagi berjualan ke Jalan Surken.

Hal serupa di akui Agus Salim, pedagang buah di Sukasari yang sebelumnya telah berujualan di Pasar Bogor sejak tahun 1976. Agus mengaku saat berjualan di Jalan Surken omset penjualannya bisa mencapai Rp4 juta per malam.

Tapi kata dia, ketika di dipindah ke Pasar Sukasari pendapatannya turun drastis. Permalam hanya mendapat uang sekitar Rp6 hingga 8 ratus ribu. Bahkan kata dia, selama berjualan di Sukasari ia telah kehabisan modal.

“Selama dagang disini modal saya telah habis dan bahkan timbul utang, saat ini saya sudah punya utang Rp35 juta untuk nenambal modal yang terus menyusut habis,” keluhnya.

Selain itu dia juga mengatakan banyaknya pungutan yang membebani para pedagang antara lain uang keamanan Rp3.000, kebersihan Rp3.000, listrik 5.000, auning Rp5-10 ribu, Bangunan Rp5.000 dan Jasa Pelayanan Rp9.000.

“Kalau dagangnya ramai sih gak apa-apa, tapi kalau sepi kaya gini terus kami merasa terbebani dengan banyaknya pungutan kaya gitu,” pungkasnya. (*)

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *