Temui Warga Terdampak, Dadang Danubrata Janji Kawal Pembangunan Jalur Ganda RKA Bogor-Bandung


B-CHANNEL, KOTA BOGOR– Bentuk peduli terhadap warga Kota Bogor terus ditunjukan Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bogor Dadang Iskandar Danubrata. Kali ini, Dadang yang juga anggota DPRD Kota Bogor terpilih periode 2019-2024 menemui warga Kelurahan Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Yang mana warga terdampak rencana proyek jalur ganda ( doble track) pembangunan rel kereta api Bogor-Bandung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

Sebagai wakil rakyat daerah pemilihan Bogor Selatan, Dadang yang sengaja hadir tak lain untuk melihat kondisi dilapangan dan juga bagaimana perkembangan proyek tersebut, disamping itu mendegar harapan warga yang selama ini mengeluh, lantaran rumah-rumah mereka akan terkena pembongkaran proyek jalur ganda rel kereta yang rencananya dimulai pada Januari/Desember 2020 mendatang.

“Berdasarkan pertemuan tadi dengan warga terdampak, tepatnya warga di RW 17, RT 01-03 dan juga RW 01 Kelurahan CipakuĀ  yang dihadiri kurang lebih sekitar 30-40 warga, mereka menyampaikan, bahwa sampai saat ini perkembangan proyek sudah terjadi pertemuan antara pihak warga yang difasilitasi oleh Kelurahan dan Kecamatan bersama pihak PT KAI di Kelurahan Cipaku, dimana hampir terdapat 450 warga yang terdampak kena langsung dari pelebaran jalan rel kereta ganda tersebut. Disampaikan bahwa dalam pertemuan tersebut PT KAI akan memberikan penggantian setelah melakukan verifikasi yang rencananya akan dimulai bulan depan sampai bulan november nanti. Dan penggantian akan mulai dilaksanakan pada bulan Desember,” ujar Dadang, kepada bogorchannel.id, Kamis (12/091/19).

Seminggu setelah penggantian tersebut, lanjutnya, mereka diminta untuk segera mengosongkan lahan. Adapun biaya atau penggantian dana yang akan ditawarkan PT KAI sesuai surat edaran.

“Surat edaran isinya lima macam, pertama, biaya penggantian kontrak satu tahun, kemudian biaya pembongkaran rumah lalu biaya mobilisasi barang kalo pindah kemudian juga biaya yang sifatnya ekonomis kalo misalnya lahan terkena dampak itu digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat ekonomis dan biaya yang satu lagi,” jelasnya.

Kendati sudah dilakukan pertemuan antara warga dan pihak-pihak terkait, namun warga sampai saat ini belum mendapat kejelasan mengenai besarannya.

“Ada beberapa masukan yang mereka sampaikan bahwa mereka ingin pertama diperhatikan masalah besaran penggantian tersebut yang manusiawi, contohnya kalo untuk biaya kontrak rata-rata disana katanya kontrakan sekarang sudah naik dari 600 ribu, biasanya perbulan menjadi sekitar 900 ribu perbulannya satu pintu,”katanya.

Kemudian juga, sambung Dadang, mereka menginginkan agar diberikan waktu yang cukup tidak hanya satu minggu untuk bisa pindah, karena ternyata sekarang tidak mudah juga mencari kontrakan karena sudah banyak sekali kontrakan-kontrakan yang sudah penuh disana bahkan harga kontrakannya pun sudah naik. Selanjutnya, mereka juga meminta kalau bisa penggantiannya itu didasarkan kepada jumlah KK ada dalam satu bangunan tidak dihitung perbidang, kemudian mereka meminta agar tidak hanya yang sudah tingga 10 tahun saja yang mendapatkan penggantian bagaimana dengan warga yang dibawah 10 tahun, itu mereka meminta kebijakan.

“Intinya saya sendiri berjanji kepada mereka akan mengawal agar masyarakat yang terkena dampak tersebut benar-benar mendapat keadilan, karena walau bagaimanapun mereka adalah rakyat Kota Bogor yang selama ini tinggal dan membayar pajak di Kota Bogor walaupun mereka juga menyadari bahwa lahan yang mereka tinggal itu lahan milik negara, tetapi mereka meminta mohon keadilan agar minimal nilai penggantian itu manusiawi dan bisa mereka gunakan untuk bisa menyambung hidup mereka,”tandasnya.

Sementara itu, Ketua RT 01, RW 17, Andi bersama-sama dengan Ketua RW berharap ada perhatian deri Pemkot Bogor untuk bisa mengusahakan atau membantu didalam membangun rumah-rumah mereka yang baru. Misal, ada lahan milik pribadi atau Pemda agar bisa dibuat rumah subsidi yang bisa diangsur secara ringan.

Sebanyak 1.637 bangunan rumah warga Kota Bogor, umumnya wilayah Bogor Selatan terdampak proyek jalur ganda rel kereta api, wilayah, dari jumlah tersebut, antara lain wilayah Kelurahan Empang sebayak 648 rumah, Kelurahan Cipaku 456, Kelurahan Batu tulis 330, Kelurahan Kertamaya 77, Kelurahan Lawang gintung 11, Kelurahan Genteng 32 dan Kelurahan Bondongan sebanyak 27 rumah. Selain wilayah Kecamatan Bogor tengah untuk Kelurahan Gudang sebanyak 56 rumah.

Reporter: Ery Novriansyah

Bogor Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *