Sumber Energi Terbarukan di Indonesia Belum Dimanfaatkan Maksimal 


B-CHANNEL, BOGOR – Menyambut Hari Bumi 22 April 2019, Climate Communication Forum (CCF) kembali menggelar forum diskusi bertajuk “Renewable Energy to Save Earth from Climate Change” yang diselenggarakan oleh Center for Public Relations, Outreach and Communication (CPROCOM) Minggu 21 April di Bogor.

Indonesia memiliki sumber daya
alam yang melimpah, namun baru sedikit yang dimanfaatkan untuk energi terbarukan.

Sementara sumber energi fosil seperti minyak bumi, gas, dan batubara yang dimiliki Indonesia jumlahnya sangat terbatas. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami krisis energi dan menjadi negara yang tergantung pada impor energi pada 2027.

Salah satu komoditas energi yang perlu mendapat perhatian adalah bahan bakar
minyak (BBM), khususnya sektor transportasi. Data dari Buku Outlook Energi Indonesia 2018 yang dilansir dari bppt.go.id menunjukkan bahwa lebih dari 94% penggunaan energi di sektor transportasi yaitu BBM.

Berangkat dari keprihatinan akan semakin tingginya emisi gas rumah kaca (GRK) akibat penggunaan energi fosil yang dihasilkan aktivitas manusia di bumi, Dr. Emilia Bassar selaku pendiri CPROCOM yang juga bertindak sebagai moderator membuka diskusi dengan pertanyaan bagaimana memahami jejak karbon kita? Dan bagaimana mengurangi bahkan menghapus jejak karbon dari kegiatan kita sehari hari untuk menjaga bumi dari kepunahan akibat perubahan iklim?

Dicky Edwin Hindarto selaku Advisor for Indonesia Joint Crediting Mechanism (JCM) menjelaskan bahwa emisi atau gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas manusia berbanding lurus dengan jejak karbonnya. Jejak karbon adalah emisi gas rumah kaca yang kita hasilkan dari kegiatan kita sehari hari dalam periode tertentu.

“Kita harus mengurangi gas rumah kaca di atmosfer untuk menyelamatkan bumi
dalam mengurangi pemanasan global,” terang Dicky.

Dicky juga mengajarkan bagaimana menghitung jejak karbon, salah satunya jejak karbon pada makanan. Jejak karbon pada makanan dapat dihitung dengan melihat jenis dan produksi bahan makanannya, transportasi bahan makanannya, cara memasaknya,
serta pembuangan limbahnya.

Berapa banyak akumulasi karbon yang dihasilkan, itulah jumlah jejak karbon makanan yang kita makan. Lalu apa hubunganya dengan energi terbarukan? Energi terbarukan dan efisiensi energi apabila diimplementasikan dengan cara yang benar akan secara signifikan mengurangi emisi dan jejak karbon.

Diskusi ini juga membahas tantangan industri dalam pengembangan energi
terbarukan (renewable energy). Pandujati selaku co-founder PT. Redmen Baruna Jaya optimis dengan prospek bisnis energi terbarukan di Indonesia mengingat konsumsi listrik yang terus meningkat setiap tahun dan besarnya potensi energi terbarukan di Indonesia.

Potensi tersebut berupa tenaga air untuk pembangkit listrik, angin, biomassa, dan energi surya.

Sementara itu, Epri Wahyu Pratiwi, Captain dari komunitas Climate Rangers
menekankan adanya upaya nyata yang dapat dilakukan oleh semua orang, terutama anak muda, untuk menyuarakan kepedulian dan kesadaran dalam membangun gerakan iklim di Indonesia, dan mewujudkan Indonesia bebas energi fosil.

Tentu saja memberikan kesadaran akan penggunaan energi terbarukan perlu
dukungan banyak pihak.

“Bagaimana mempublikasikan isu-isu renewable energy agar menjadi topik yang seksi di media,” tanya Emil pada Richaldo Y. Hariandja, pembicara dari Society of Indonesia Environmental Journalists (SIEJ). Richaldo atau biasa dipanggil Rico menjawab bahwa kita perlu mendorong peliputan media dengan membidik segmentasi media yang sesuai. Selain itu, isu energi terbarukan harus mendorong isu lokal dan humanis, berkaitan dengan aspek ekonomi dan lingkungan, serta dirangsang dengan data dan angka.

“Isu energi merupakan irisan dari aspek politik, lingkungan, dan ekonomi,”
jelasnya.

Acara yang dimulai pukul sembilan hingga pukul 12 siang ini dihadiri oleh berbagai kalangan, seperti lembaga pegiat lingkungan, pemerintah, akademisi, profesional, pelajar, dan mahasiswa.

“Kehadiran pemuda menjadi penting karena pemuda merupakan agen perubahan dan pengambil kebijakan di masa yang akan datang untuk kemandirian energi dan
pengembangan energi terbarukan di Indonesia,” ujar Emil.

Kesimpulannya, energi terbarukan yang potensinya melimpah di Indonesia perlu
ditingkatkan pemanfaatannya sebagai salah satu solusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (terutama CO2), menahan laju pemanasan global, dan menangani perubahan iklim. Energi terbarukan adalah mitra ramah lingkungan untuk menjaga kelestarian bumi.

Acara yang berlangsung hangat melalui antusiasme peserta dalam diskusi, ditutup oleh Emil dengan menyatakan bahwa kita bisa memulai dengan langkah-langkah kecil untuk efisiensi energi tapi berdampak besar bila dilakukan bersama. Misalnya, menggunakan transportasi publik, jalan kaki untuk jarak dekat, makan makanan lokal, mencabut charger handphone bila selesai digunakan, mendesain rumah dengan banyak ventilasi udara, dan menggunakan lampu LED. Lakukan aksi nyata untuk menyelamatkan bumi dari kepunahan akibat dampak perubahan iklim.

Penulis: Enden Darjatul Ulya dan Emilia Bassar.

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *