Sarasehan Teater: Sampai Di Mana Kita?


B-CHANNEL, KOTA BOGOR– Sebagai bagian dari rangkaian acara Bogor Act Festival (BAF), para panitia BAF telah menggelar acara Sarasehan Teater yang diadakan pada Rabu (28/8/19). Acara tersebut diselenggarakan pada pukul 19.30 WIB di Gedung Kesenian Kamuning Gading dan melibatkan beberapa orang narasumber yang berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda.

Beberapa narasumber tersebut adalah Uci Sanusi (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor), Achmad Dayari (Komite Teater DK3B), Ubay S. (Wartawan Seni dan Budaya), Jali Sadega, Nurmansyah, Husni Mubarok dan Laura Bernadethe (Praktisi Teater). Sayangnya, Uci Sanusi dan Ubay S. berhalangan hadir.

Acara dibuka dengan penjelasan dari moderator yang menyatakan bahwa secara garis besar, perjalanan seni teater di kota Bogor dapat dibagi menjadi empat era, yaitu era tahun 1980-an, 1990-an, 2000-an, dan 2010-an. Pada era 1980-an muncul Liga Teater Pelajar, Pentas Oratorium, dan pembentukan GSSRB Dipokersen pada tahun 1987. Kemudian pada tahun 1990-an, ada peristiwa dimana Jali Sadega, salah satu narasumber yang juga merupakan praktisi teater dari Studi Teater Dipokersen, memenangkan lomba monolog se-Jawa-Bali. Pada era ini pula berdiri Sanggar Seni Teater Lentera di Universitas Djuanda dan Saseka dari Akademi Kimia Analisis.

Pada era tahun 2000-an merupakan era keemasan bagi berkembangnya teater di Bogor. Pada era ini mulai berdiri UKM Seni dan Budaya Universitas Pakuan, Teater Karoeng FISIB Universitas Pakuan, serta diselenggarakannya Dipo Award dan Arisan Teater Pelajar.

Selain itu, diadakan pula Fokalismas yang digawangi oleh Teater Karoeng dan Sanggar Seni Teater Lentera. Pada era ini, sempat terjadi pula beberapa peristiwa bersejarah, di antaranya terbentuknya DK3B, serta penguasaan Gedung Kesenian Kamuning Gading oleh para seniman, sehingga gedung tersebut bisa menjadi gedung kesenian yang bersifat terbuka seperti sekarang.

Kemudian, pada era 2010-an juga lumayan banyak terjadi peristiwa yang cukup berpengaruh dengan perkembangan teater di Bogor saat ini. Beberapa di antaranya yaitu pembentukan Keluarga Teater Kampus Bogor (KTKB), berdirinya Teater Diksatrasia FKIP Universitas Pakuan, mulai diadakannya Parade Teater Kampus dan Festival Drama Juang, Bogor menjadi tuan rumah dari acara Temu Teman Teater dan masih banyak lagi.

Hingga akhirnya, pada tahun 2019 ini diadakanlah Bogor Act Festival.
Selain berbagi tentang rekam jejak perjalanan teater di kota Bogor, para narasumber yang hadir juga turut membagikan pengalaman mereka selama menjadi praktisi teater di kota Bogor.

Para narasumber menuturkan bahwa pada awal perkembangannya, kelompok-kelompok teater di Bogor muncul karena kebutuhan akan wadah untuk mengekspresikan diri, barulah lama kelamaan menjadi sebuah disiplin ilmu yang dipelajari secara mendalam.

Menurut Jali Sadega sendiri, pada dasarnya para penonton tidak ingin melihat kemampuan para aktor dalam berakting, tetapi justru ingin melihat perasaan yang disampaikan melalui aksi tersebut. Beliau juga menambahkan bahwa proses berteater itu memang tidak mudah, karena beliau sendiri pun melalui proses yang lama, bahkan harus mengulang satu dialog yang sama berkali-kali agar dapat memahami emosi yang terkandung di dalamnya.

“Karena saya sudah terbiasa dengan metode teater Stanislavski, menurut saya, apabila kita sedang membedah naskah kemudian menampilkannya di atas panggung tanpa mengerti betul dan merasakan emosi yang seharusnya, maka itu adalah sebuah bentuk kejahatan dan ketidakjujuran. Sah saja untuk dilakukan, tapi bagi saya itu merupakan sebuah bentuk kejahatan dan ketidakjujuran. Sehingga, betul-betul kita memompa perasaan dan emosi kita, bukan kita justru terpaku pada naskah,” tuturnya.

Dalam berproses teater, Jali Sadega juga sempat bercerita bahwa dirinya sempat mengalami fase dimana dirinya menjadi sombong dan merasa sudah amat pandai berteater. Hal ini juga merupakan hal yang disesalinya, karena baginya sendiri kesombongan bukanlah hal yang semestinya ada pada diri seorang aktor.

“Kesombongan itu hadir di Bengkel Teater Rendra. Ketika itu saya menonton pertunjukan yang menurut saya aktornya jelek. Ketika tanya jawab, saya pun membantai habis-habisan aktor tersebut. Tetapi kesombongan itu ternyata harus saya bayar ketika saya digarap kembali oleh Abah Cherry untuk mementaskan sebuah monolog. Karena selama ini saya terbebani oleh akting, saya tidak bisa bermain dengan lepas.

“Di situ saya menangis karena malu. Saya akhirnya pasrah. Di situ saya mencoba kembali lagi, dan langsung mengalir begitu saja. Kesimpulannya setelah saya melalui hal itu, ternyata, sehebat apapun kalian, ketika memasuki pentas, di kepala kalian masih ada rencana mau begini mau begitu, habis kalian di atas panggung,” ceritanya.

Jali Sadega juga menegaskan bahwa dalam berteater, yang paling utama adalah kerja keras dan setia terhadap proses. Dan hasil akhir dari kerja keras seorang aktor adalah ketika dia berlakon di atas panggung.

Rangkaian Pementasan Bogor Act Festival 2019 Bogor Act Festival 2019 menyuguhkan empat pertunjukan teater secara marathon selama dua hari, yakni tanggal 6-7 September 2019 di Gedung Kesenian Kamuning Gading Kota Bogor. Pementasan pertama akan diisi oleh kelompok Laboratorium Aktor Bogor (LAB) dengan naskah “Topeng Jigprak” karya Abah Jana. LAB memilih konsep konservatori kesenian tradisi khas Bogor untuk meramaikan rangkaian pementasan teater Bogor Act Festival 2019.

“Topeng Jigprak” akan dipentaskan pada tanggal 6 September 2019 pukul 15:30 WIB. Pementasan kedua menyusul di hari yang sama pada pukul 19:30 WIB. Pementasan kedua ini akan diisi oleh kelompok Teater Kaliyuga dengan naskah “Ceracao Balam-Balam” karya Bram Gerung. Kali ini, Teater Kaliyga berkolaborasi dengan kelompok musik Kaladhien yang akan memberikan warna berbeda di pementasan ini.

Pementasan ketiga di hari Sabtu tanggal 7 September 2019 pukul 15:30 WIB akan diisi oleh kelompok Teater RAS dengan naskah “Blong” karya Putu Wijaya. Karya bernuansa perjuangan ini akan diperkaya dengan pertunjukan dari Padepokan Wayang Bambu. Sebagai pamungkas, pementasan keempat akan diisi oleh kelompok Studi Teater Dipokersen (STD) yang akan membawakan naskah “The Towel Lady” karya Janet S Tiger. Naskah ini merupakan naskah monolog. Namun, STD – salah satu kelompok teater tertua di Bogor ini – akan mempercantik sajian dengan tarian dan musik sebagai pendukung suasana sekaligus pemanis.

Tiket untuk masing-masing pementasan dipatok seharga Rp. 25.000. Tiket dapat dipesan melalui panitia atau melalui masing-masing kelompok teater. Ditunggu kehadirannya. (*)

Seni dan Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *