Antisipasi Penyakit PMK, DKPP Bakal Monitoring Hewan Ternak Kurban di Kota Bogor

IMG 20220606 WA0027

B-CHANNEL, KOTA BOGOR
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor akan terus melakukan monitoring ke sejumlah peternakan Sapi dan lapak lapak penjual hewan qurban.

Monitoring dilakukan guna mengantisipasi penularan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan qurban menjelang Idul Adha tahun 2022 mendatang.

Kepada Bidang Peternakan Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor, Anizar menyampaikan, pihaknya memonitor ke 6 Kecamatan untuk selalu pengecekan hewan di peternak dan di lapak lapak.

“Kita memonitor ke 6 Kecamatan. Kita bagi bagi, seluruh Dinas terlibat dalam kecamatan. Kalo memonitoring nya itu kita ke lapak lapak, kita ada 6 tim, jadi setiap tim itu bergerak, dan itu setiap hari. Yang pasti tim yang di Bogor Timur tidak boleh ke wilayah Bogor Selatan, karena kan kita sebagai penyebar, kepada media, Senin (06/06/22).

Ia juga menceritakan bahwa ada penurunan pada lapak lapak yang tidak menjual hewan qurban.

“Jadi selama ini kita belum ada mendapatkan gejala yang menjurus kesana. Ada beberapa yang sakit tetapi setelah kita cek gejala gejala nya tidak menjurus ke situ, dan sudah kita obati juga,” katanya.

Ia juga menyarankan kepada para peternak untuk menggunakan obat herbal seperti kunyit, brotowali, Pare, atau juga bisa dengan daun pepaya jika brotowali tidak ada, ada juga madu, atau gula merah, asam jawa dan temulawak lalu di minuman kepada hewan ternaknya.

“Kita sarankan juga kepada peternak karena kita untuk obat obatan nya terbatas untuk tahun ini karena anggarannya dipake untuk anggaran covid 19 jadi kita himbau kepada masyarakat untuk menggunakan obat obatan herbal dan itu sudah mulai sosialisasi kan kepada peternak peternak. Seperti covid-19 kalo imunnya kuat, yang penting hewan qurban itu mau makan insyaallah sehat lagi,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku pada sapi sangat cepat tetapi tidak menyebar kepada manusia.

“Penyebaran sangat cepat kepada hewan ternak yang lain, tetapi tidak penyebar kepada manusia. Angka kesakitan mencapai 100 persen tetapi angka kematian itu hanya 5 persen, itu pun kematian nya hanya kepada hewan muda atau hewan yang masih kecil,” ungkapnya.

Anizar memberikan pesan untuk para peternak untuk tidak membeli atau membawa hewan ternak dari daerah wabah.

Yang kedua kata dia, harus membeli dari daerah bebas wabah dan harus membeli hewan kepada yang mempunyai Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Dan haru memberikan pakan yang cukup dan vitamin serta memberikan antibiotik.

Minimal kalo dia mempunyai SKKH berarti dia sudah di jamin oleh dokter hewan dari tempat dia beli bahwa hewan itu sehat. Jadi pakan harus di tetap di jaga, lingkungan, tidak boleh terkena angin, kandangnya juga, itu semua untuk imunitas sapi,” pungkasnya. (ER/BC)

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *