Aksi Nyata Mengurangi Sampah Plastik di Indonesia


B-CHANNEL, BOGOR– Meningkatnya jumlah sampah plastik di Indonesia yang dapat merusak lingkungan dan kesehatan tubuh menjadi keprihatinan Dr. Emilia Bassar, pendiri Center for Public Relations, Outreach and Communication (CPROCOM) yang juga Climate Reality Leader.

Ia kemudian menginisiasi kegiatan bulan Aksi Komunikasi untuk Perubahan Iklim (Aku Iklim) dengan teman “Less
Plastic Small Action – Big Impact for Mother Earth” selama bulan Juli 2019 di Bogor.

Dilansir dari depkes.go.id, Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Imran Agus Nurali, Sp, KO mengatakan bahwa sampah plastik yang sulit terurai menyebabkan terjadinya penimbunan limbah, penyumbatan saluran air, dan terjadinya banjir yang mencemari lingkungan.

Sampah plastik yang tertimbun di dalam tanah atau air akan mempengaruhi kesehatan manusia.

Sementara itu, beberapa hasil riset menunjukkan bahwa Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut.

Data yang diperoleh dari Asosiasi
Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

“Kegiatan bulan Juli ini sekaligus memperingati HUT ke—10 The Climate Reality Project Indonesia. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, masyarakat semakin sadar akan dampak buruk
sampah plastik, lalu mereka mau mengurangi penggunaan plastik, atau dapat mengolah sampah plastik menjadi barang yang berguna,” kata Emilia Bassar yang biasa dipanggil dengan Emil.

Kegiatan ini akan diawali dengan talkshow bahaya sampah plastik bagi lingkungan dan kesehatan tubuh, serta workshop membuat tote bag dari kaos bekas bersama Greenpeace Indonesia, Minggu 7 Juli.

Minggu kedua 14 Juli akan diisi oleh pengalaman inspiratif tim siswa ABhome Bogor yang baru saja mengikuti Annual Conference-Caretakers of Environment International (CEI) 2019 di
Turki.

Para siswa ini juga akan praktik storytelling bertemakan A Story for Earth “Empowering Plasticless Living.”
Kegiatan di hari Minggu 21 Juli berisi pentas drama dan nyanyi tentang “Plastic Pollution in The Ocean” bersama Yayasan Terumbu Karang Indonesia (Terangi). Dan diakhiri dengan membuat biota laut dari kertas origami.

“Tiga kegiatan tersebut ditujukan untuk siswa SD sampai SMA. Acaranya fun tapi punya pesan mendalam tentang pentingnya menjaga bumi dengan mengurangi kantong plastik, botol
plastik, atau sedotan plastik, misalnya,” ujar Emil.

“Untuk anak-anak muda berusia 17—25 tahun, kami buat Youth Camp dengan topik Youth Creative Solutions to Reduce Plastic Waste,” lanjut Emil.

Youth Camp terdiri dari kegiatan talkshow tentang “Youth Responsibility to Generate Creative Solution for Climate Change and Reduce Plastic Waste”, leadership games, dan youth creative action plan yang merupakan komitmen anak muda untuk mengurangi sampah plastik dan mengkampanyekannya melalui berbagai platform media.

Di ujung kegiatan Aku Iklim, Minggu 28 Juli, ada workshop melukis dengan memanfaatkan sampah botol plastik sebagai alas dasar lukisan. Workshop ini akan dilatih oleh Dwi Mukti Wibowo
dari Yayasan Galeri Saraswati. Kegiatan ini ditujukan bagi masyarakat umum yang mau mencoba teknik melukis yang berbeda dan unik tapi mempunyai nilai ekonomi.

Berbagai kegiatan sederhana ini akan berdampak besar bila banyak orang yang melakukan inisiasi-inisiasi aksi sejenis guna melindungi bumi dari kerusakan alam akibat perilaku kita. Sudah bukan saatnya lagi kita hanya berwacana untuk merubah perilaku lebih ramah lingkungan. Lakukan aksi nyata meski kecil tapi berdampak luas bagi kehidupan manusia dan alam. (EB/FFA).

Sorotan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *