BOGORCHANNEL.ID– Menyusul rencana proyek pembangunan Bale Ageung Batutulis Pakwan oleh pemerintah Kota Bogor mendapat sorotan tajam dari masyarakat lokal Sunda Kota Bogor mengatasnamakan Masyarakat Peduli Bale Ageung Batutulis. Sebab, perencanaan konsep arsitektur bangunan Bale Batutulis Pakwan menurut mereka tidak sesuai dengan rancang tapak atau siteplan yang jauh dari marwah budaya dan jati diri adat kesundaan.
Putra Sungkawa merupakan Ketua dari Masyarakat Peduli Bale Ageung Batutulis Pakwan Kota Bogor, menyatakan narasi penolakan pada pembangunan Bale Ageung Batutulis Kota Bogor. Ia bersama kerabat kesundaan, kasepuhan, karuhun sunda Kota Bogor mewakili masyarakat peduli batu tulis pakwan Kota Bogor dengan tegas menolak pembangunan tersebut, dan menutut Pemerintah Daerah Kota Bogor dan DPRD Kota Bogor untuk mendengarkan aspirasi keberpihakan kepada masyarakat sunda Kota Bogor yang telah mengabaikan dan melanggar konstitusi terhadap UU No.5 Tahun 2017 karena tidak menjaga pemajuan kebudayaan dengan kearifan lokal disini.
“Kami akan tetap melakukan demontrasi ringan dan juga secara administratif terhadap aksi penolakan kami ini terutama terhadap rancang bangun desain yang seharunya mengandung berbagai filosofi kandungan kesundaan yang seharusnya mengadopsi dari kesundaan lokal Kota Bogor,”tegasnya
Ia menyampaikan beberapa tuntutan kepada Pemerintahan Daerah Kota Bogor dan DPRD Kota Bogor yang harus mereka perhatikan, antara lain, pemerintah kota dan DPRD sebaiknya memberikan peluang kesempatan untuk merevisi dengan memberikan solusi dengan menerima masukan rancang bangun desain untuk melibatkan semua pihak, khususnya budayawan sunda yang mengerti tentang literatur jati diri sunda, agar bisa memastikan bahwa desain sudah tepat sesuai tata titik kesundaan. Selanjutnya mengajukan mosi tidak percaya yang akan disampaikan kapada DPRD Kota Bogor.
“Masyarakat Peduli Bumi Ageung Batu Tulis Pakwan Bogor menjadi bagian dari supervisi dalam pengawasan, pemeriksaan, serta inspeksi dalam pembangunan tersebut, terlepas dari siapapun yang membangun.
Masyaralat Peduli Bumi Ageung Batu Tulis Pakwan Bogor memberikan masukan berupa rancang tapak (siteplan) sebagai dasar literasi dan konsep terhadap ciri-ciri kesundaan yang bisa dijelaskan secara filosofi dan kaunabian sunda. Dan terakhir desain yang sudah ada saat ini, secara fungsi memang tidak mewakili peruntukannya secara filosofi.
Sementara ditempat yang sama, tokoh muda Bogor peduli kebudayaan Sunda Hizriyanda Putra (hz.putra) yang ikut mendampingi aspirasi masyarakat peduli batutulis Pakwan Kota Bogor mengungkapkan, bahwa dirinya sebagai putra asli daerah Kota Bogor, bersama sama tokoh kasepuhan sunda dan warga lainnya mendukung atas inisiasi penolakan tersebut sebagai langkah menuju kebaikan besama dan perubahan pemajuan kebudayaan di Kota Bogor.
“Eksistensi saya disini sebagai bentuk kepedulian dalam memperjuangkan aspirasi warga sunda Kota Bogor, saya melihat ada peran yang kurang berjalan baik antara Pemerintah dan DPRD Kota Bogor di masa akhir jabatan mereka, tidak melakukan pendekatan yang massif terlebih dahulu kepada warga budayawan sunda, kasepuhan, karuhun sunda Jawa Barat di Kota Bogor terhadap rencana pembangunan Bale Ageung Batu Tulis Pakwan Bogor yang resmi akan mulai dijalankan dari proses pengadaan proyek pemerintah kota yang selama rancan bangun desainnya tidak mencerminkan dan memperhatikan kelokalan budaya asli kesundaan di Kota Bogor,”ungkap Hizriyanda Putra, kepada media, kemarin.

Kenapa demikian, sambung dia, karena mereka tidak berusaha mengundang dan mencari formula bersama masyarakat budayawan sunda Kota Bogor dan terkesan proyek pengadaan pembangunan tersebut memaksakan kehendak terutama terhadap desain bangunan yang dirancang, terlihat tidak ikut mekanisme yang baik dan santun terhadap pendapat atau aspirasi masyarakat sunda Kota Bogor.
“Bahkan pembangunan tersebut diperuntukan untuk apa dan bagaimana masih tidak ada kejelasan dan kepasatian, apakah hendak menjadikan sebagai museum kesundaan, pusat kesenian kesundaan, atau menjadikan sebagai tempat kafe atau sebagainya ini masih tertutup informasinya,” paparnya.
“Jadi, marwah seni budaya dan jati diri sunda harus bersama-sama kita perjuangkan, kita disini ingin kehadiran dan keberadaan tokoh lokal kesundaan Kota Bogor manjadi bagian sejarah sunda dalam pemajuan kebudayaan di tanah kita sendiri Kota Bogor. Kelokalan, keterpaduan, kesederajatan, dan kebebasan berekspresi kita junjung disini.
Masyarakat peduli Bale Ageung Batutulis Pakwan Kota Bogor ingin menjaga nilai-nilai luhur budaya sunda asli, tidak hanya melestarikan pusaka peninggalan, namun menjaga kearifan masyarakat
sunda Kota Bogor.
“UU No.5 Tahun 2017 Pasal 11, 12, dan 13 jelas, telah diamanahkan agar pemerintah daerah hingga pusat untuk melibatkan masyarakat melalui para ahli yang memiliki kompetinsi dan kreadiabilitas dalam pemajuan kebudayaan tersebut. Namun, sekarang kita lihat ada kesan memanfaatkan dan menjerumuskan masyarakat sunda kita untuk ikut apa yang diinginkan pemerintah yang tidak didasari atas aspirasi budayawan sunda di Kota Bogor,” jelasnya.
Menurut mantan Jajaka Parahiyangan Jawa Barat dan Kotamadya Bogor/Kota Bogor tahun 1997 ini, bahwa pemerintah daerah Kota Bogor harus lakukan identifikasi keadaan terkini, sumber daya manusia kebudayaan, terutama terhadap identifikasi potensi masalah pemajuan kebudayaan pada rencana
pembangunan saran dan prasarana kebudayaan yang dilakukan dengan melibatkan masyarakat lokal itulah yang seharusnya menjadi bagian dari visi pemerintah daerah Kota Bogor.
“Saya dan rekan-rekan disini berharap setiap orang, masyarkat Kota Bogor harus bisa dan terus mewariskan kepada generasi berikutnya dalam memperjuangkan warisan budaya kita, sehingga kita semua mempunyai kewajiban menjaga nilai-nilai keluhuran dan kearifan sunda, menghidupkan dan menjaga ekosistem kebudayaan. Kita harus berperan aktif dalam penyelamatan kebudayaan dalam revitalisasi, repatriasi, dan restorasi.
Pemerintah Daerah Kota Bogor dan peran DPRD Kota Bogor harus bisa melakukan pembinaan bukan pembiaran. Ini adalah langkah kita dalam berekspresi budaya kita sendiri dalam merawat seni dengan hati,”ungkapnya.
Lebih jauh, ia menambahkan, semboyan hari jadi Kota Bogor kemarin, “Rumawa Pusaka Kota†janganlah hanya sebuah nama saja, namun harus benar-benar mencerminkan inspirasi proses elaborasi dan kolaborasi dalam langkah toleransi berkelanjutan yang terus mengajak masyarakat sunda kota bogor menjadi bagian dan memiliki peran partisipatif dalam pemajuan kebudayaan. (dr/bc)



