BOGORCHANNEL.ID- Ketua umum Komunitas Jokowi Bersatu (KJB) Ridwan Darmawan menyebut para politikus yang menyerang Presiden Jokowi atas sebutan istilah cawe-cawe Pilpres 2024, merupakan gambaran paranoid Kubu Anies.
Para politikus tersebut diantaranya mantan Wapres JK, kemudian ada Benni K. Harman dari Partai Demokrat, yang mana juga mengatakan bahwa Presiden Jokowi telah mengajak perang dengan rakyatnya sendiri.
Sebelumnya, Presiden Jokowi memfasilitasi pertemuan para ketua umum Partai politik koalisi pemerintahan di Istana Negara beberapa waktu yang lalu, adalah bagian dari silaturahmi dalam rangka momentum Idul Fitri, selain bertukar pikiran. Terlepas hal itu, di tahun politik ini, tentu banyak pihak dari kubu pemerintahan yang memberikan pandangan lain.
Presiden mengajak para ketua- ketua parpol dalam menghadapi pemilu 2024 dengan riang gembira, tidak saling jegal menjegal.
Dalam pertemuan Presiden mengajak agar para ketua Partai Politik menghadapi pemilu 2024 agar tetap berpegang teguh pada kesepakatan bangsa yakni Pancasila, Konstitusi UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.
Ridwan berpandangan bahwa apa yang mereka sampaikan adalah gambaran paranoid kubu Anies.
“Kita tau bahwa JK selama ini juga mengendorse Anies dan Partai Demokrat partainya Benni K. Harman adalah salah satu pengusung Anies. Jadi kalau pak JK minta pak jokowi untik tidak menendorse siapa-siapa itu bentuk ketakutan dan kepanikannya karena jagoannya mungkin tidak mampu bersaing dengan Ganjar,”terang Ridwan, kepada bogorchannel.id, Rabu (10/05/23).
Ridwan melanjutkan, jika dilihat dari sejarah bagaimana JK banyak bermain dalam upaya mengsukseskan Anies sejak jadi Gubernur DKI.
“Jadi dalam kalkulasi politik sepertinya Anies tidak mampu bersaing dalam pilpres dengan Ganjar, dan JK menuduh bahwa pak Jokowi yan terus endorse Ganjar, padahal jelas bahwa apa yanh pak Jokowi lakukan tidak melanggar konstitusi dan hukum, lalu pak Jokowi tau aspirasi akar rumput, bahwa rakyat menginginkan model pemimpin terbaik bagi bangsa ini seperti pak Ganjar. Jadi sah-sah saja, tida usah terlalu paranoid, masa belum bertarung udah takut kalah, pak JK kan berpengalaman dalam politik indonesia, jadi tenang saja, tidak usah lempar peluru serang pak jokowi,”imbuhnya.
Lebih lanjut aktivis 98 yang juga putra asli Bogor ini mengungkapkan bahwa, demokrasi harus jadi the supreme of public interrest dan didalamnya ada sine qua non yg mutlak harus ada yaitu pemilu yang bebas, jadi tidak usah takut karena konstitusi melindungi dan memastikan pemilu akan berjalan aman. (**)



