B-CHANNEL, KOTA BOGOR– Selama ini imaji yang tertanam dalam pikiran masyarakat tentang polisi kadung kurang baik. Padahal itu terjadi berlandaskan ketegasan demi penegakan aturan semata. Hal ini pula yang menjadi penyebab adanya jarak antara warga dengan korps penegak hokum satu ini. Didasari kenyataan tersebut, ditambah dengan terus meningkatnya kasus Covid-19, Polres Bogor Kota mencoba menghapus segala stigma negatif, meminimalisir penyebaran virus yang menjadi momok sejak tahun lalu dengan bersikap luwes dan memaksimalkan kemajuan teknologi di era milenium dengan tujuan menyebarkan informasi seluas-luasnya.
Diawali audiensi dengan beberapa komunitas dan media yang dianggap memiliki pengikut dan pengaruh masif, Kapolres Bogor Kota, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menginisiasi sebuah kegiatan yang melibatkan warga Bogor bertajuk “TIKTOK CHALLENGE PROTOKOL KESEHATAN 5M†dengan tema “Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak, Menghindari Kerumunan, Mengurangi Mobilitasâ€.
“TikTok Challenge Polresta Bogor Kota dibuat dalam rangka mendekatkan diri kepada para netizen. Ini adalah bagian dari strategi kami di era reformasi digital medsos, strategi menghadapi pandemi. Ini juga salah satu cara saya menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat. Bagi saya masyarakat adalah market, saya jualan produk, produk saya pengekaan hukum,†jelas Sustayo, saat ditemui temu Selebgram dan penggiat medsos disela launching lomba Tiktok Chalange Polresta Bogor Kota, Sabtu (16/01/21).
Sejak lima tahun lalu perkembangan teknologi khususnya yang berkaitan dengan internet dan telepon pintar menggempur dengan segala kekuatannya.
Berbagai platform aplikasi pun bertebaran layaknya jamur di musim penghujan, dan dua tahun ke belakang platform pemutar video musik bernama TikTok jadi idola warganet. Sejak dirilis pada tahun 2016 silam, platform buatan perusahaan Tiongkok ini mengalami perkembangan yang signifikan.
Sempat diblokir oleh Kemenkominfo pada 3 Juli 2018, kemudian dilepas pemblokirannya satu minggu kemudian setelah TikTok bernegosiasi, membuat berbagai perubahan, termasuk menghapus konten negatif, membuka kantor penghubung pemerintah, dan menerapkan batasan usia serta mekanisme keamanan. Friksi ini malah melambungkan nama TikTok dan menambah jumlah penggunanya.
Mungkin hal ini tidak lepas dari pengamatan Kapolresta hingga dengan berani dan dalam tempo yang singkat merilis satu lomba yang diharapkan mendapatkan respon baik dari warga Bogor Raya dan memiliki efek signifikan dalam mensosialisasikan program.
“Saya ini Polresta zaman now. Untuk itu segala kegiatan positif, inovatif, dan kreatif bisa menghantarkan saya semua kepada milenial. Untuk kreasi apapun kami siap mewadahi,†ucap mantan Dir Resnarkoba Polda Banten tersebut.
Terlepas dari pro dan kontra soal TikTok, langkah Susatyo ini mesti didukung dengan dua alasan kuat menyertai yaitu diharapkan bisa menghapus stigma negatif kepolisian dan siapa tahu langkah yang didasari oleh penyesuaian diri dengan kondisi dan teknologi akan memiliki efek posisitif kuat terhadap warga yang mayoritas melek informasi, teknologi, dan tentu saja selalu ingin menjaga eksistensi.
(Rizza/dr/bc)




No comment