BOGORCHANNEL.ID – Tokoh muda asli putra daerah Kota Bogor Hizriyanda Putra ikut menyorot rencana proyek pembangunan Bale Ageung Batutulis Pakwan Pajajaran yang akan dibangun pemerintah Kota Bogor. Ia juga ikut turun mengawal aksi penolakan pembangunan Bale Ageung. Penolakan datang dari masyarakat Sunda mengatasnamakan masyarakat peduli Bale Ageung.
Dikesempatan, belum lama ini, mantan Jajaka Parahiyangan Jawa Barat dan Kota Bogor tahun 1997 ini menyatakan sikapnya kepada pemerintah Kota Bogor, selain DPRD Kota Bogor. Menurut dia, pemerintah daerah Kota Bogor harus melakukan identifikasi keadaan terkini, sumber daya manusia kebudayaan, terutama terhadap identifikasi potensi masalah pemajuan kebudayaan pada rencana
Ia juga bersama sama para budayawan tokoh kesepuhan sunda mendukung atas inisiasi penolakan perencanaan pembangunan tersebut. Penolakan menyusul ketidak cocokan konsep arsitektur pembangunan Bale Ageung Batutulis yang di design pihak ke tiga atas persetujuan Pemkot Bogor.
“Jadi, eksistensi saya disini sebagai bentuk kepedulian dalam memperjuangkan aspirasi warga sunda Kota Bogor, saya melihat ada peran yang kurang berjalan baik antara Pemerintah dan DPRD Kota Bogor di masa akhir jabatan mereka, tidak melakukan pendekatan yang massif terlebih dahulu
kepada warga budayawan sunda, kasepuhan, karuhun sunda Jawa Barat di Kota Bogor terhadap rencana pembangunan Bale Ageung Batutulis Pakwan Bogor yang resmi akan mulai dijalankan dari proses pengadaan proyek pemerintah kota yang selama rancangan bangun desainnya tidak mencerminkan dan memperhatikan kelokalan budaya asli kesundaan di Kota Bogor,”ungkap Hz Putra nama panggilan.
Pemkot Bogor menurutnya, tidak berusaha mengundang dan mencari formula bersama masyarakat budayawan sunda Kota Bogor dan terkesan proyek pengadaan pembangunan tersebut memaksakan kehendak terutama terhadap desain bangunan yang dirancang, terlihat tidak ikut mekanisme yang baik dan santun terhadap pendapat atau aspirasi masyarakat sunda Kota Bogor. Bahkan pembangunan tersebut diperuntukan untuk apa dan bagaimana masih tidak ada kejelasan dan kepasatian, apakah hendak menjadikan sebagai museum kesundaan, pusat kesenian kesundaan, atau menjadikan sebagai tempat kafe atau sebagainya ini masih tertutup informasinya.
Marwah seni budaya dan jati diri sunda harus bersama-sama diperjuangkan, kehadiran dan keberadaan tokoh lokal Sunda manjadi bagian sejarah sunda dalam pemajuan kebudayaan di tanah kita sendiri Kota Bogor. Kelokalan, keterpaduan, kesederajatan, dan kebebasan berekspresi harus dijunjung disini.

Lanjut dia, masyarakat peduli Bale Ageung Batutulis Pakwan Kota Bogor seyogyanya ingin menjaga nilai-nilai luhur budaya sunda asli, tidak hanya melestarikan pusaka peninggalan, namun menjaga kearifan masyarakat sunda Kota Bogor.
“UU No.5 Tahun 2017 Pasal 11, 12, dan 13 jelas, telah diamanahkan agar pemerintah daerah hingga pusat untuk melibatkan masyarakat melalui para ahli yang memiliki kompetinsi dan kreadiabilitas dalam pemajuan kebudayaan tersebut. Namun, sekarang kita lihat ada kesan memanfaatkan dan menjerumuskan masyarakat sunda kita untuk ikut apa yang diinginkan pemerintah yang tidak didasari atas aspirasi budayawan sunda di Kota Bogor,” jelasnya.
Ia berharap setiap orang, masyarakat Kota Bogor harus bisa dan terus mewariskan kepada generasi berikutnya dalam memperjuangkan warisan budaya, sehingga semua mempunyai kewajiban menjaga nilai-nilai keluhuran dan kearifan sunda, menghidupkan dan menjaga ekosistem kebudayaan.
“Kita harus berperan aktif dalam penyelamatan kebudayaan dalam revitalisasi, repatriasi, dan restorasi, “kata Hz Putra.
Lanjut ia mengatakan, Pemerintah Daerah Kota Bogor dan peran DPRD Kota Bogor harus bisa melakukan pembinaan bukan pembiaran. Ini adalah langkah kita dalam berekspresi budaya kita sendiri dalam merawat seni dengan hati.
“Semboyan hari jadi Kota Bogor kemarin, “Rumawa Pusaka Kota†janganlah hanya sebuah nama saja, namun harus benar-benar mencerminkan inspirasi proses elaborasi dan kolaborasi dalam langkah toleransi berkelanjutan yang terus mengajak masyarakat sunda kota bogor menjadi bagian dan memiliki peran partisipatif dalam pemajuan kebudayaan,”tutup Hz.Putra. (Dr/bc)



