B-CHANNEL,KOTA BOGOR– Santri dan santriwati penyandang disabilitas di Rumah Tahfidz Quran Nurul Qalbi memanfaatkan waktu ramadhan dengan membaca ayat suci Al-Qur’an.
Meskipun keterbatasan fisik karena tuna netra, mereka semangat beribadah dengan terus mengaji membaca Al Qur’an dengan dibantu metode braile atau huruf timbul. Selain memanfaatkan indra peraba melalui telunjuk tangan.
Pengurus Rumah Tahfidz Al-Quran Nurul Qalbi, Erni Juhana mengatakan, selama Ramadhan mereka penyandang tuna netra menghafal kalam kalam Allah untuk terus meningkatkan potensi diri. Baik yang masih muda maupun orangtua.
Yang mana nantinya para penghafal Al-Quran akan diuji setiap tahunnya. Jika lulus, mereka akan diwisuda, bahkan ada yang sampai ikut kompetisi.
Lebih lanjut Erni menceritakan bahwa Rumah Tahfidz Nurul Qalbi didirikan untuk menjadikan penyandang tunanetra sebagai hafiz Alquran. Rumah Tahfidz ini terbagi beberapa cabang yang semuanya menginduk pada Rumah Tahfiz Nurul Qalbi Pusat di Depok.
“Pendirian rumah tahfidz di Bogor ini awalnya merupakan gagasan yang disampaikannya kepada pengurus Rumah Tahfiz Pusat Nurul Qalbi,” ujarnya.
Menurutnya, dia mengusulkan keberadaan Rumah Tahfiz tersebut ada di Bogor agar bisa menjadikan teman-teman tuna netra yang ada di sekitar kota dan kabupaten Bogor sebagai hafiz. Atau setidaknya mengajarkan bacaan Alquran pada mereka.
“Sebelumnya saya ada keinginan bagaimana caranya untuk mengumpulkan teman-teman saya yang tuna netra untuk bisa mengikuti tahfiz Quran atau paling tidak sehari-hari mereka bisa baca Alquran,” ungkap Ernih yang juga penyandang tuna netra.
Ernih mengaku, sebelum dirinya menjadi Pengelola Rumah Tahfiz Nurul Qalbi, ia kerap mengikuti pengajian maupun majelis di Jakarta dan Depok.
Dia bersyukur bisa bertemu dengan salah satu Pengurus PPPA Daarul Quran sehingga harapan mendirikan Rumah Tahfiz untuk tuna netra di Bogor dapat terwujud.
Dirinya menyampaikan, kegiatan rumah tahfidz ini hanya diadakan setiap hari Selasa. Mereka berangkat ke sini sendiri, tidak ada yang mengantar. Erni mempunyai harapan, agar ada donatur yang membantu pemberian dana untuk biaya transportasi mereka.
“Kasian mereka pasti akan kepikiran biaya transportasi ke sini. Mikirnya mending buat makan dari pada ongkos. Saya ingin mereka tetap semangat,” ungkapnya. (ER/BC)




No comment