Pendidikan: ‘Pandemi dan Proses Belajar Mengajar’

0
24

B-CHANNEL, BOGOR– Pandemi Covid-19 sudah memasuki genap satu tahun, dimana awal diumumkannya Indonesia terkena wabah pandemi pada tanggal 2 Maret 2020 oleh Presiden Republik Indonesia. Masyarakat Indonesia mau tidak mau harus mengikuti pola hidup baru dengan melaksanakan protokol kesehatan. Di dunia pendidikan juga mengalami penyesuaian sistem belajar mengajar dengan pembelajaran jarak jauh atau yang sering dikenal daring/dalam jaringan (sekarang BDR).

Pendidikan (UU No. 20 Tahun 2003) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam perspektif teoritik, pendidikan seringkali diartikan dan dimaknai orang secara beragam,  bergantung pada sudut pandang masing-masing dan teori yang dipegangnya. Berkenaan dengan pembelajaran (pendidikan dalam arti terbatas),  pada dasarnya setiap kegiatan  pembelajaran pun harus direncanakan terlebih dahulu sebagaimana diisyaratkan dalam Permendiknas RI  No. 41 Tahun 2007. Menurut Permediknas ini bahwa  perencanaan proses pembelajaran meliputi penyusunan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dikdasmen) Hamid Muhammad (2020) menerangkan bahwa mengingat saat ini tengah terjadi pandemi Covid-19, tahun ajaran baru tidak sama dengan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di sekolah.

Metode dan media pelaksanaan BDR dilaksanakan dengan dengan Pembelajaran Jarak Jauh yang dibagi kedalam dua pendekatan yaitu pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring).

“PJJ ada yang daring, ada yang semi daring, dan ada yang luring”. Kemudian, untuk metode pembelajaran jarak jauh secara luring, warga satuan pendidikan khususnya peserta didik dapat memanfaatkan berbagai layanan yang disediakan oleh Kemendikbud antara lain program belajar dari rumah melalui TVRI, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajar cetak serta alat peraga dan media belajar dari benda dan lingkungan sekitar,”ujarnya.

Memaknai Pendidikan Dalam Konteks Pandemi Pendidikan memiliki kaitan yang kuat terhadap pengetahuan, bahwa pengetahuan merupakan jalur alternatif yang sangat dibutuhkan orang banyak, bahkan menjadi motivasi terbesar dalam menjalani proses pendidikan. Pendidikan jarak jauh (UU No.20 tahun 2003) adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.

Memaknai konteks pendidikan di masa pandemi bagi pemuda saat ini menurut Anggi Afriansyah peneliti LIPI (2020), yaitu semangat para pendiri bangsa dalam menggagas sumpah pemuda, meskipun di tengah keterbatasan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda saat ini. Keterbatasan akibat situasi pandemi ini anak-anak muda harus tetap semangat belajar. Sebab mereka dituntut untuk lebih adaptif, tangguh, dan mandiri untuk menghadapi situasi yang semakin tidak menentu. Selain itu peran aktif para pemuda untuk membantu masyarakat yang kesulitan.

Pendidikan Indonesia kita lihat mulai semakin berkembang dari tahun ke tahun, dari kebijakan-kebijakan pemerintah sangat terbukti membawa kebijakan perubahan dalam ilmu pendidikan Indonesia.

Walaupun dari berbagai macam kebijakan yang diambil ada yang pro dan kontra, akan tetapi ini sangat patut dimaklumi mengingat didunia ini setiap individu ataupun golongan-golongan yang memiliki pola pikir yang berbeda-beda.
Pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatiha, proses, cara, perbuatan mendidik. Dan pengetahuan menurut KBBI adalah, segala sesuatu yang diketahui atau kepandaian.

Berdasarkan data BPS (2018) melalui Survei Penggunaan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi di sektor pendidikan ini dilakukan terhadap 4.014 sekolah yang tersebar di 34 provinsi. Berdasarkan jenjang pendidikan, SD dan sederajat sebanyak 64,55 persen, SMP dan sederajat sebanyak 19,22 persen dan SMA dan sederajat sebanyak 16,23 persen.

Dan sekolah yang memiliki akses internet sesuai dengan jenis koneksi internet, semua jenjang lebih memilih mengakses internet dengan jenis koneksi fixed broadband, lebih tepatnya sebesar 62,41 persen. Jenis koneksi lainnya, yaitu koneksi fixed narrowband digunakan sebanyak 9,90 persen. Sementara itu, yang menggunakan koneksi mobile broadband sebesar 34,85 persen dan yang menggunakan VSAT (satelit) sebesar 4,01 persen. Serta proporsi siswa yang mengakses internet di sekolah, untuk semua jenjang pendidikan sebesar 33,67 persen.

Pada masa pandemi, dukungan layak dan cukup bagi mereka yang terbatasi akses menjadi sangat penting diberikan. Merekalah yang sangat terdampak di dalam situasi ini. Kebijakan relaksasi dana BOS, bantuan kuota, ataupun dana bantuan sosial menjadi upaya dari pemerintah untuk meringankan beban masyarakat miskin. Akan tetapi, dalam praktiknya anak-anak keluarga miskin tetap sangat sulit mengoptimalkan proses pembelajaran pada masa pandemi. Bagi mereka yang bersekolah di sekolah-sekolah yang memiliki akses yang memadai, adaptasi dan transformasi sangat mungkin terjadi pada masa pandemi.

Berdasarkan data survey (2021) kepada perwakilan siswa-siswa dari 5 (lima) sekolah di daerah Kecamatan Jati Asih, tentang belajar dari rumah sebanyak 100% menyatakan kurang efisien dan tidak efektif karena tidak mendapatkan penjelasan materi secara detail dan juga tidak menjamin anak untuk menangkap pelajaran tersebut secara cepat, serta tidak semua siswa paham dengan materi yang diberikan jika dibandingkan penjelasan materi secara tatap muka di sekolah.

Dan menurut para siswa (2021) proses pembelajaran daring ini mempunyai implikasi kepada orang tua untuk membantu dalam memberikan penjelasan kepada anaknya terkait materi pembelajaran, dimana orang tua untuk menggantikan peran guru di sekolah yang artinya orang tua di rumah saat waktu belajar daring dia sebagai guru atau pengawas.

Untuk proporsi guru yang mempunyai kualifikasi di bidang TIK (BPS, 2018), untuk semua jenjang pendidikan sebesar 10,10 persen. Berdasarkan jenjang pendidikan, pada jenjang pendidikan SMA dan sederajat lebih besar yaitu 14,43 persen, diikuti SMP dan sederajat sebesar 11,33 persen, lalu SD dan sederajat sebesar 6,90 persen. Dan terkait sekolah yang menggunakan telepon dalam kegiatan belajar mengajar, untuk semua jenjang pendidikan sebesar 46,01 persen. Berdasarkan jenjang pendidikan, pada jenjang pendidikan SMA dan sederajat penggunaan telepon lebih besar yaitu 73,56 persen, diikuti SMP dan sederajat sebesar 54,84 persen, lalu SD dan sederajat sebesar 36,45 persen.

Berbagai metode baru digunakan (Anggi, 2021) oleh guru-guru yang memiliki keleluasaan akses tersebut selama pandemi. Ada peningkatan kapasitas dari guru-guru tersebut dan tentu saja sangat bermanfaat bagi pembelajaran. Namun, potret yang paradoks dirasakan oleh para guru yang kesulitan akses. Satu-satunya jalan agar pembelajaran tetap berlangsung tentu saja dengan mendatangi satu per satu anak-anak dengan metode tatap muka. Tentu saja ada risiko di dalam proses tersebut, tetapi hanya hal tersebut yang dapat dilakukan. Beberapa sekolah menggunakan modul-modul yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk belajar secara mandiri. Tentu hal tersebut tidak optimal. Guru-guru yang memiliki akses untuk mengikuti berbagai webinar dan pelatihan digital yang memungkinkan mereka untuk meningkatkan kapasitas dalam mendidik anak. Sayangnya, berbagai kebijakan dan implementasi yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terjebak pada arus digitalisasi. Bahkan selama pandemi, berbagai kebijakan belajar dari rumah sangat mengandalkan perangkat teknologi yang mumpuni. Hal yang kemudian menyebabkan anak-anak miskin yang tak punya akses semakin tertinggal. Anak-anak dan orang tua dituntut untuk paham akan penggunaan teknologi informasi, dan juga harus memiliki perangkat teknologi untuk proses pembelajaran.

Keadaan atau kondisi pandemi Covid-19 semakin membuka tabir persoalan pendidikan (Anggi, 2021). Ketimpangan akses semakin membuat anak-anak dari keluarga miskin terbatasi meraih janji pendidikan. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Pemerintah perlu memperhatikan dengan seksama berbagai perkembangan terkini dan memprioritaskan kebijakan pendidikan bagi keluarga miskin yang paling terdampak situasi pandemi.

Banyak siswa dari kalangan keluarga miskin kehilangan akses pendidikan dan pembelajaran saat daring. Namun, di sisi lain, banyak kelompok siswa dari keluarga mapan lebih mudah belajar jarak jauh. Ini implikasi dari ketimpangan tersebut.

Oleh: Suhendra Mulya M,SI (Humas Madya LIPI)/foto: istimewa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here