Grand Design Strategi Pendidikan Nasional Menuju Generasi Emas Indonesia 2045

0
105

B-CHANNEL, BANDUNG– Pendidikan adalah salah satu tumpuan dan hal yang paling fundamental untuk melahirkan generasi emas Indonesia 2045. Sebagaimana Nelson Manndela berkata bahwa “pendidikan merupakan senjata paling ampuh untuk mengubah dunia”.

Dari dunia pendidikan diharapkan akan lahir generasi gemilang sebagai pewaris tongkat estafet kepemimpinan dan pembangunan bangsa.

“Namun pertanyaaanya pendidikan yang seperti apa yang dapat mengubah dunia?” ungkap ketua BEM HMCH.

Muhamad Pebriansah dalam sambutannya pada Seminar Pendidikan Nasional yang diselenggarakan oleh BEM Himpunan Mahasiswa Civics Hukum (HMCH) Universitas Pendidikan Indonesia, Sabtu, 19 Juni 2021.

Mengusung tema “Pendidikan Masa Lalu, Masa Kini, Masa Depan: Grand Design Strategi Pendidikan Nasional Menuju Generasi Emas Indonesia 2045”, seminar nasional ini dihadari oleh narasumber yang sangat cakap di bidangnya.

Pada kesempatan ini hadir tiga pembicara yakni: 1. Anggota komisi X DPR RI Dr Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP. 2. Dinas Pendidikan provinsi Jawa Barat H. Dedi Supandi, S.Stp., M.Si. 3. Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Bunyamin Maftuh, M.Pd., M.A. Serta hadir pula Prof. Dr. H Didi Sukyadi, M.A. wakil rektor Universitas Pendidikan Indonesia sebagai keynote speaker.

Narasumber pertama, Dr Ir. Hetifah Sjaifudian dari Komisi X DPR RI memaparkan mengenai Strategi Pendidikan Nasional Menuju Generasi Emas 2045. Dr Hetifah menyinggung mengenai kebutuhan SDM masa depan yang dipengaruhi oleh perubahan teknologi, sosial dan lingkungan yang sedang terjadi secara global.

Cara bekerja pada masa depan akan jauh berbeda jika dibandingkan dengan hari ini. Pertama, adanya trend perubahan struktural seperti munculnya jenis pekerjaan baru, tenaga kerja multi generasi dan beragam serta tidak dibatasi struktur dan tempat.

Kedua, trend perubahan dalam otonomi pekerja dimana karier ditentukan oleh pekerja, bukan perusahaan. Ketiga, trend perubahan pemberdayaan teknologi seperti terjadinya digitalisasi dan otomatisasi serta akses dan pengolahan data yang semakin masif.

“Untuk menghadapi tantangan SDM masa depan yang begitu kompleks dunia pendidikan kita dihadapkan pada berbagai permasalahan yang harus segera diatasi secara holistik,” ungkapnya.

Oleh karena itu, diperlukan peta jalan pendidikan nasional yang bersifat holistik dimana seluruh pemangku kepentingan pendidikan termasuk siswa menjadi agen perubahan.

Upaya mencapai angka partisipasi pendidikan yang tinggi, hasil belajar berkualitas dan distribusi yang merata, maka dapat dicapai melalui perbaikan pada: 1) Infrastruktur dan teknologi; 2) kebijakan, prosedur dan pendanaan; 3) kepemimpinan, masyarakat dan budaya; serta 4) kurikulum, pedagogi dan asesmen.

Beranjak pada pematerian yang kedua diisi oleh narasumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, H. Dedi Supandi, S.Stp., M.Si. “Berbicara pendidikan masa kini dan kesiapan menuju generasi emas 2045, khususnya di Jawa Barat sudah dilakukan berbagai upaya responsif,” ujarnya.

Mengusung visi “Terwujudnya Jawa Barat Juara Lahir Batin dengan Inovasi dan Kolaborasi” kebijakan pembangunan pendidikan terjabarkan dalam misi yang ketiga yaitu mempercepat pertumbuhan dan pemerataan pembangunan berbasis lingkungan dan tata ruang yang berkelanjutan melalui peningkatan konektivitas wilayah dan penataan daerah.

Program unggulan pendidikan Jabar Juara diantaranya: sekolah gratis, peningkatan kualitas dan kompetisi GTK, beasiswa Jabar Future Leader Scholarship, penambahan program keahlian SMA di kawasan Rebana dan lainnya.

H. Dedi Supandi juga memaparkan bahwa Jawa Barat memiliki pendidikan karakter khas Jawa Barat yaitu melalui gerakan Jabar Masagi yang berupaya untuk meningkatkan: Iman-Ilmu-Akhlaq-Sehat atau SQ-IQ-EQ-PQ. Hal itu dilakukan melalui pendekatan Surti (Merasa)-Harti(Mengerti)-Bukti(Mengerjakan)-Bakti (Memimpin) yang diambil dari 3 budaya pembentuk Jawa Barat: Sunda, Cirebon dan Betawi.

Pada bagian akhir pematerian yang disampaikan oleh narasumber ketiga, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Bunyamin Maftuh, M.Pd., M.A. “Berbicara pendidikan di masa depan tentu tidak dapat dilepaskan dari pendidikan masa kini dan masa lalu,” ungkapnya.

Pendidikan di setiap zamannya diwarnai dengan tantangan dan orientasi yang berbeda sesuai dengan konteks zaman yang sedang berlangsung oleh karena itu pendidikan harus mampu adaptif terhadap perubahan. Prof. Bunyamin juga berpesan agar siswa pada abad 21 sebagaiamana yang diutarakan oleh Ken Kay, President Partnership for 21st Century Skills harus menjadi: pemikir kritis, penyelesai masalah, inovator, komunikasi efektif, kolaborasi efektif, mengarahkan diri sendiri, paham informasi dan media, paham dan sadar masalah global, memikirkan kepentingan umum serta tampil dalam keuangan, ekonomi dan kewirausahaan.

Seminar Pendidikan Nasional ini menjadi refleksi menuju megatrend Indonesia emas 2045 dengan melihat pendidikan masa lalu, masa kini dan masa depan. Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan bermoral menjadi syarat mutlak untuk mencapai masa emas tepat di 100 tahun Indonesia merdeka. Pendidikan menjadi jembatan penting untuk mencetak generasi emas yang didambakan, oleh karena itu Grand Design Strategi Pendidikan Nasional Menuju Generasi Emas Indonesia 2045 merupakan suatu keniscyaaan untuk dilakukan secara holistik, inovatif, kolaboratif dan berkelanjutan.

Mengutip kalimat yang diutarakan John F. Kennedy “Kemajuan kita sebagai suatu bangsa tidak bisa lebih cepat daripada kemajuan kita dalam pendidikan. Pikiran manusia adalah sumber daya fundamental kita”.

Penulis : BEM HMCH UPI Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here