Utamakan Kepentingan ‘Justitiabelen’, Kasus “Pak Ogah” Mahpud Berakhir Damai

0
53

B-CHANNEL, KOTA BOGOR–  Kasus yang dialami Mahpud warga Kota Bogor dengan lembaga donasi ternama Kita Bisa Indonesia (kitabisa.com) akhirnya berujung damai tanpa sengketa jalur peradilan termasuk lapor Polisi.

Perdamaian kedua belah pihak atas dasar pertemuan yang digagas Advokat Senior Sugeng Teguh Santoso.

Menurut Sugeng, kode etik advokat mengamanatkan untuk mengutamakan jalan damai dalam penyelesaian sengketa.

Sang Pembela nama beken Sugeng Teguh Santoso menjelaskan, bahwa penyelesaian kasus hukum bisa melalui upaya ADR alternatif dispute resolusi, salah satunya melalui perundingan untuk damai.

Bahkan jika memang dimungkinkan tidak harus bertindak sebagai kuasa hukum (Advokat) dengan menerima kuasa. Cukuplah bisa mempertemukan kepentingan-kepentingan pihak-pihak yang  bersengketa dalam meja perundingan dengan spirit solusi damai tanpa sengketa.

Masalah kasus “Pak ” Ogah” Mahpud dengan pemarakarsa penggalangan dana yang diwakili oleh kuasa hukumnya Supriantona Siburian dan organisasi crowdfunding kitabisa.com akhirnya dapat diselesaikan dengan damai melalui suatu pertemuan antara pengagas dengan Alghif Fari Aqsha  kuasa hukum kitabisa.com ) dan dilaksanakan di Bogor.

“Posisi saya dalam kasus ini bukanlah sebagai kuasa hukum Pak Mahpud, hanya sebagai mediator (tanpa sertifikat),” kata Sugeng Teguh Santoso, kepada bogorchannel.id, Rabu (07/03/21).

Sugeng menuturkan, yang bersangkutan Mahpud telah datang dua kali bertemu dengan dirinya, didampingi sahabat Sugeng Felix Martha dan kuasa hukum pendampingnya Yono. Dalam setiap pertemuan, Sugeng membatasi diri untuk hanya memberikan nasihat hukum yang berimbang (berusaha objektif ) dan menghindari jadi “Kompor “agar tidak timbul kesalahpahaman sehingga masalahnya berujung perkara hukum yang tidak perlu. Bahkan dirinya menahan diri untuk tidak menawarkan sebagai kuasa hukum. Biarlah keluarga Mahfud dan kuasa hukumnya Yono menempuh langkah-langkah yang  dianggap perlu.

“Saya mendengar Pak Mahpud dengan bantuan Pak Yono telah berusaha juga minta bantuan Pak Walikota Bogor, sempat dimediasi di Balaikota dan juga Pak Mahfud sempat didampingi oleh Walikota mendapat suntikan covid 19 jatahnya Pak Wali yang dihibahkan pada Pak Mahfud dengan seremoni yang dipublikasikan. Selesai? Belum juga. Kemudian Pak Mahpud dan Pak Yono “Mampir” diwakili Advokat dengan tampilan yang sangat keren. Hingar bingar sempat terjadi sejenak. Saya sempat berharap bantuan tersebut bisa tuntas dan Pak Mahfud bisa senyum menikmati haknya, selesai ? Sebelum selesai dicabut kuasanya. Penanganan oleh advokat keren tersebut nyaris menimbulkan sengketa yang tidak perlu, karena over publikasi “tutur Sugeng.

Lanjut Sugeng, bila para advokat yang mewakili para pihak atau tokoh masyarakat sungguh-sungguh mengedepankan kepentingan pencari keadilan (Justitiabelen) bukan kepentingan terselubung pribadi, advokat dan tokoh masyarakat tersebut.

“Saya memperkirakan penyelesaian masalah hukum akan lebih mudah mendapatkan solusi dengan perundingan damai,”kata Sugeng.

Diketahui sebelumnya, Mahpud beserta keluarga menuntut keadilan pihak lembaga donasi tersebut.

Mahpud telah menjadi objek sekelompok anak muda yang berinisiasi membantu Mahpud, dengan cara menggandeng lembaga donasi ternama Kita Bisa Indonesia.

Hasilnya donasi untuk bantuan Mahpud yang terkumpul telah mencapai Rp. 431.000.000. Uang itu sepenuhnya diperuntukan bagi pengobatan dan kebutuhan sehari-harinya Mahpud dan keluarga.

Dengan adanya donasi tersebut, Mahpud dan keluarga hal itu merupakan secercah harapan untuk menjalani hidup kehidupannya ke depan.

Namun semangat itu tidak sesuai harapan. Pasalnya, donasi yang terkumpul hampir setengah milyar itu, tidak sepenuhnya sampai ke tangan Mahpud.

Pihak yayasan hanya menyerahkan sebagian donasi itu ke Mahpud sebesar kurang lebih 30 juta rupiah. Seketika Mahpud dan keluarga tertunduk lesu, karena biaya 30 juta hanya habis untuk pengobatan jalannya, belum beli obat dan kebutuhan sehari-harinya. Karena disaat sakit selama 4 bulan lebih lamanya, Mahpud tidak ada pemasukan sama sekali, terlebih ditengah pandemi covid-19 yang nasih berlangsung.

Mahpud sendiri di Kota Bogor dikenal merupakan sosok yang bisa disebut ikon Kota Bogor. Sebab, dirinya adalah satu-satunya juru arah dari setiap mata angin bagi pengendara roda dua maupun empat di Kota Bogor yang dilakukan dengan sukarela tanpa dibayar.

(Er/bc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here