Bencana: “Banjir dan Protokol Kesehatan”

0
58

B-CHANNEL, BOGOR– Indonesia merupakan negara besar yang memiliki ribuan pulau yang terbentang dari barat pulau Sumatera dan sampai ujung timur pulau Papua. Berdasarkan informasi Kementerian Dalam Negeri Tahun 2018 yang dipublikasikan dalam Buku Statistik Indonesia 2018, Indonesia memiliki 16.056 pulau pada 2017. Jumlah ini berkurang 1.448 pulau dari sebelumnya sebanyak 17.504 pulau.

Indonesia memiliki flora dan fauna yang beraneka ragam, dan Indonesia juga memiliki ratusan sungai dan anak sungai di seluruh Indonesia. Sungai di Indonesia yang kondisinya tercemar dan kritis mencapai 82 persen dari 550  sungai yang tersebar di seluruh Indonesia (Republika:2019). Tingginya tingkat pencemaran membuat airnya tidak layak untuk dikonsumsi. Dari lebih 550 sungai itu, 52 sungai strategis di Indonesia dalam keadaan tercemar, di antaranya Sungai Ciliwung di DKI Jakarta dan Sungai Citarum di Jawa Barat.

Jakarta dilewati 13 sungai yang semuanya bermuara ke Teluk Jakarta. Sungai yang terpenting ialah Ciliwung, yang membelah kota menjadi 2 (webiste jakarta.go.id). Bagian sebelah timur dan selatan Jakarta berbatasan dengan provinsi Jawa Barat. Sedangkan yang berada di sebelah barat berbatasan dengan provinsi Banten. Teluk Jakarta yang luasnya sekitar 514 km2 ini merupakan wilayah perairan dangkal dengan kedalaman rata-rata mencapai 15 meter. Sungai Ciliwung adalah salah satu sungai terpenting di Tatar Pasundan Pulau Jawa terutama karena melalui wilayah ibukota DKI Jakarta, yang kerapkali menimbulkan banjir tahunan di wilayah hilirnya. Panjang aliran utama Ciliwung ini adalah hampir 120 km dengan daerah tangkapan airnya (daerah aliran sungai) seluas 387 km persegi. Sungai ini relatif lebar dan di bagian hilirnya dulu dapat dilayari oleh perahu kecil pengangkut barang dagangan. Wilayah yang dilintasi Ciliwung adalah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok dan Jakarta.

Bencana Banjir dan Penerapan Protokol Kesehatan.

Bencana (menurut UU No.24 tahun 2007) adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Sungai untuk sebagian orang menganggap menjadi sumber kehidupan. Oleh sebab itu mereka menghormati lintasan air di sungai dan pantang untuk mengotorinya. Namun, tidak sedikit pula yang menganggap sungai bukan bagian penting kehidupan. Dianggap hanya lintasan air saja. Akibatnya, orang-orang itu menganggap sungai bisa dijadikan tempat sampah dan membuang apa saja semaunya, tidak terpikir dampak apalagi kehidupan di sekitar sungai tersebut.

Kejadian Bencana adalah peristiwa bencana yang terjadi dan dicatat berdasarkan tanggal kejadian, lokasi, jenis bencana, korban dan/ataupun kerusakan. Jika terjadi bencana pada tanggal yang sama dan melanda lebih dari satu wilayah, maka dihitung sebagai satu kejadian. Sedangkan banjir adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat. Kota-kota di Indonesia berkembang sangat cepat dalam dekade terakhir.

Perkembangan ini bukan hanya dilihat dari ketersediaan infrastruktur dan fasilitas publik saja, namun juga ditandai dengan bertambahnya jumlah penduduk di wilayah perkotaan. Kepadatan penduduk serta masalah-masalah di perkotaan yang semakin kompleks; buruknya system drainase, berkurangnya daerah resapan air bahkan gundulnya daerah hijau di wilayah hulu, membuat kota semakin “sesak” dan berimbas kepada terganggunya system ekologis atau lingkungan di perkotaan (Mulyana, 2014: dalam Lengga Pradipta, 2017).

Banjir di Jakarta bisa disebabkan oleh curah hujan yang besar di hulu daerah Bogor, dan bisa juga disebabkan oleh curah hujan lokal yang besar, serta bisa terjadi karena kedua-duanya dalam waktu yang bersamaan.

Banjir di Jakarta dan juga beberapa kota besar lainnya di Indonesia menurut peneliti LIPI Lengga (2021) bahwa tidak bisa semata-mata hanya karena cuaca esktrim, banyak triggered dan faktor lainnya, yang justru datang dari manusia itu sendiri (man-made disaster). Banjir tidak bisa serta merta menyalahkan iklim dan cuaca (karena itu sudah embedded dengan climate change) yang sudah hampir 2 (dua) dekade terjadi. Tetapi semua pihak harus melihat kesiapan infrastruktur dan juga merubah culture/budaya masyarakat untuk menghadapi bencana banjir.
Pesatnya pertumbuhan ekonomi tidak diiringi dengan kesiapan kota-kota tersebut untuk mengakomodir masalah lingkungan yang muncul karena masifnya pembangunan.

Menurut studi yang dilakukan oleh LIPI (2016), persoalan-persoalan lingkungan yang terjadi selama ini belum mendapatkan ‘porsi’ perhatian yang cukup dari semua pihak. Ini menyebabkan banyak kota yang sangat sensitive akan bencana ekologis, terutama bencana banjir. Untuk mengantisipasi dan meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh bencana banjir, maka hal yang paling krusial untuk dilakukan adalah mengetahui faktor penyebab rusaknya lingkungan dan serta menganalisa kapasitas yang dimiliki oleh penduduk dalam menghadapi banjir.
Saat ini Indonesia sudah satu tahun mengalami masa pandemi covid 19. Diseminasi informasi terkait 3M sering dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran covid 19. Penerapan protokol kesehatan di masyarakat bisa menjadi suatu model bagi pemerintah daerah untuk keluar dari pandemi COVID-19.

PenangananCOVID-19 di masyarakat dengan berbagai strategi bisa bangkit dari masalah pandemi tersebut. Jadi penerapan protokol kesehatan ini menjadi satu kelebihan yang merupakan faktor positif untuk percepatan keluar dari kondisi pandemi COVID-19.

Kunci dari pengendalian penyakit menular itu adalah bagaimana sedini mungkin melakukan berbagai upaya untuk memutus mata rantai penularan. Yang bisa dikerjakan oleh masyarakat adalah bagaimana melakukan pencegahan dari sumber penularannya yaitu mulut, hidung, dan sentuhan tangan. Pelaksanaan 3M atau memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, menjadi kata kunci yang penting dalam mencegah penularan COVID-19.

Memakai masker yang baik itu sudah bisa memutus mata rantai penularan COVID-19 sebesar 50%. Kemudian mencuci tangan secara teratur, dan kita tahu bahwa jarak itu antara satu sampai dua meter dapat mencegah penularan.

Indonesia di beberapa daerah sedang mengalami bencana, termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten sedang menghadapi bencana banjir. Dalam penanganan korban petugas tetap melaksanakan protokol kesehatan, akan tetapi para korban bencana terlihat tidak melaksanakan protokol kesehatan. Dan di tempat pengungsian juga terlihat sama dengan tidak menerapkan protokol kesehatan. Padahal di saat banjir korban akan rentan terkena segala penyakit yang ada di sekitarnya.

Protokol kesehatan cenderung sangat diabaikan ketika banjir terjadi (Lengga, 2021), ketika warga melakukan mitigasi dan penyelamatan diri kemudian berlindung di shelter-shelter yang disediakan pemda, mereka cenderung menganggap covid-19 tidak menjadi “risk” lagi. Karena sudah lebih dulu terbebani dengan kondisi banjir serta kerugian yang disebabkan oleh banjir. Hal ini sebenarnya bisa memicu terjadinya cluster baru penyebaran virus covid-19, apalagi ketika banjir, risiko-risiko penyakit baru sangat mungkin muncul (seperti diare, penyakit kulit, dll). Dan satu hal lagi, isu air bersih dan sanitasi yang minim juga bisa menyebabkan protokol kesehatan susah dilaksanakan, padahal kita tahu air bersih dan sanitasi yang memadai adalah faktor krusial dalam penanggulangan banjir dan juga pandemi.

Banjir di kota besar (khususnya Jakarta) beberapa waktu yang lalu adalah sudden disaster, maka yang harus ditanggulangi duluan adalah dampak sosialnya (mulai dari shelter untuk korban, dapur umum, serta fasilitas kesehatan yg memadai), tetapi tentu penanganan korbannya harus lebih extra ketat dari pada kejadian banjir sebelumnya. Berkaca pada banjir 1 Januari 2020 (ketika belum merebak virus covid-19), pemda sudah cukup kewalahan, apalagi sekarang karena dibarengi dengan penanganan covid. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam menghadapi bencana banjir, yaitu, fokus pada pencegahan kejadian banjir berulang (mengingat cuaca masih tidak menentu dan ramalan BMKG kita masih harus siaga akan kejadian banjir susulan), tentu dengan mempersiapkan infrastruktur banjir yang lebih memadai (water pump, normalisasi sungai, dan lain-lain.

Korban banjir harus direlokasi di tempat yang layak (bukan hanya layak secara kesehatan, namun juga memperhatikan dan mempertimbangkan pandemi covid-19), dan juga menghindari shelter yang terlalu “sesak” mungkin bisa membantu mencegah covid, jadi shelter tidak terpusat di satu atau dua titik saja.

Memperhatikan dan selalu mengawal korban banjir atau masyarakat yang terdampak banjir untuk selalu mengikuti aturan/protokol kesehatan untuk mencegah munculnya klaster baru, dan juga dengan menyediakan fasilitas kesehatan yang lebih banyak dan layak.

Oleh: Suhendra Mulia, M.Si. (Humas Madya LIPI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here