Klarifikasi Pengelola Kopi Daong, “Hubungan Kita Dengan Aparatur dan Para Tokoh Baik”

0
56

B-CHANNEL, CARINGIN Belum lama ini, salah satu tempat makan ternama di kawasan kaki Gunung Salak, tepatnya di Desa Pancawati, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor yakni Kopi Daong, menjadi sorotan publik.

Sebab, di bukan suci Ramadhan Kopi Daong tetap buka seperti biasanya, hingga mengundang pengunjung untuk datang.

Terlebih pengunjung baik yang muslim dan non muslim siang itu berdatangan untuk sekedar makan dan minum dan tidak memperdulikan orang muslim sedang menjalankan ibadah puasa.

Hal itu kemudian mengundang perhatian warga yang menilai bahwa pihak pengelola Kopi Daong telah melanggar aturan dan tidak menghargai dan menghormati bulan suci Ramadhan.

Menanggapi hal itu, Manajemen Kopi Daong mengundang para tokoh agama dari MUI setempat untuk mengklarifikasi permasalahan yang sedang terjadi.

Menurut pihak manajemen, soal jam operasional tidak ada permasalahan dengan aturan pemerintah daerah maupun pemerintah Desa, hanya dalam persoalan ini karena adanya miss informasi.

“Jadi pada hari Sabtu 24 April 2021, Kopi Daong didatangi banyak pengunjung non Muslim dari Jakarta, sekira  pukul 14.00 WIB siang,”

“Mereka datang jam 14. 00, kami mengizinkan masuk pukul 16.00 WIB, karena jauh jauh datang dari Jakarta dan sempat memaksa masuk. Sempat kecewa mereka, karena non muslim dan tidak berpuasa.

“Akhirnya kita izinkan masuk, sambil menunggu persiapan hidangan yang mereka pesan,”kata Prasetyo Direktur Operasional Kopi Daong, kemarin.

Menurut pengelola Kopi Daong, hubungan pemerintah Desa maupun MUI Desa Pancawati dengan manajemen sangatlah baik, Beberapa kali sinergy dalam mengadakan berbagai kegiatan.

“Terlalu jauh kalau mereka melakukan sidak, karena biasanya mereka komunikasikan dengan baik jika ada hal yang tidak berkenan melalui kepala Desa maupun Sekdes, begitu juga MUI biasannya melalui Ketua atau Sekretaris MUI, bisa. Serupa teguran, lisan dan pemanggilan,”katanya.

Prassetyo mewakili Daong Lovers, mengatakan, bahwa Daong adalah warung Kopi atau Kedai dengan 150 pekerja lokal yang mencoba mengais rejeki dari warung kopi untuk menghidupi karyawan dan keluarga karyawan, begitu juga dengan warga setempat yang terlibat dalam perpakiran sekitar 80 sampai 100 orang secara bergilir, dikelola pihak desa melalui kerua RW setempat.

“Seperti kita ketahui bersama saat ini dimasa pandemi org yang bekerja saja kesulitan memenuhi kebutuhan hidup apalagi yangg tidak memiliki pekerjaan yang hanya mengantungkan dari parkir,”

“Dari sisi bisnis pelaksanaan buka usaha di bulan ramadhan adalah tidak ekonomis dimana kunjungan turun drop sampai tersisa 20%.

“Dari sisi keuangan secara operasional sudah minus dan tidak layak untuk dibuka karena pada akhirnya owner harus bridging mengeluarkan dana untuk menutupi minus bulan ramadhan,”tutur Pras.

Seperti diketahui juga pada bulan memasuki hari Raya Idul Fitri ada beban Tunjanhan Hari Raya (THR) yang mau tidak mau beban bertambah 2 x lipat.

Pertimbangan manajemen untuk tetap membuka adalah karena pertimbangan belas kasihan kepada karyawan, jika diberhentikan atau dikurangi pada bulan Ramadhan karena tanggung jawab mereka pada keluarga juga sangat besar.

Oleh karena itu, pihaknya mengambil langkah tetap masuk dan mereka tetap bekerja dengan volume pekerjaan yang jauh berkurang supaya mereka ada harapan di hari raya.

“Karyawan Daong yang mayoritas muslim adalah karyawan yang taat menjakankan kewajiban agama dan tanggung jawab terhadap keluarga. Seperti halnya Islam adalah Rahmatan Lil Alamin, seperti halnya dalam kaidah Sufi orang islam itu seperti langit dan bumi”ucapnya.

Reporter : Risky

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here