Ramadan dan Proses Membentuk Batiniah yang Sabar dalam Menghadapi Cobaan

0
35

B-CHANNEL, BOGOR– Beberapa hari lagi umat islam di seluruh dunia akan memasuki bulan yang kemuliaannya setara dengan seribu bulan. Biasanya berbagai ritual kebiasaan dilakukan dalam rangka menyambut Ramadan. Ada yang mempersiapkan diri dengan belanja kebutuhan sebelum berpuasa, ziarah, dan memilih pakaian paling bagus untuk tarawih nanti. Ada pula sebagian orang yang menyambut puasa dengan sederhana dalam hal keduniawian dan lebih peduli pada kesiapan mental yaitu rasa dan jiwa. Meningkatkan keimanan, ketakwaan, dengan lebih banyak melakukan amal soleh, menunaikan solat lima waktu, dan mulai membaca Al Quran lebih sering nan khusyuk. Semua bermuara pada satu hal, ridha sang ilahi dan harapan menjadi manusia yang lebih baik. Pertanyaannya adalah apakah kita layak dan termasuk kualifikasi? Kemudian bagaimana cara supaya misi mulia di bulan Ramadan bisa kita capai? Rasanya jawaban yang tepat untuk menjawab itu adalah memulai dengan kata ‘Penerimaan’.

Seorang muslim ditugaskan untuk beribadah kepada Allah dengan berbagai cara yang telah ditentukan. Tapi tidak semua bisa dengan mudah menjalankan hal tersebut karena pada kenyataannya dunia identik dengan cobaan godaan hingga pada akhirnya hanya segelintir yang berhasil lolos. Dan momen ini biasanya dijejalkan saat menunaikan puasa di bulan Ramadan, maksudnya Ramadan dianggap sebagai momen tepat untuk melebur dosa hingga bisa sampai ke titik tadi, manusia yang lebih baik. Di lain sisi, kita terlalu larut dalam euphoria dan menggebu-gebu dalam menggapainya hingga lupa bahwa sebelum itu kita harus bisa menerima dulu setiap kondisi dan peristiwa yang lewat di jalur takdir. Setelah itu baru ke tahap selanjutnya yaitu sabar. Contoh, di tahun 2021 atau 1442 dalam hitungan Hijriyah ini banyak sekali yang jatuh terperosok dalam kesusahan akibat serangan pandemi, dan ini berkaitan erat dengan kesiapan menjalankan puasa, secara duniawi tentu saja. Wabah yang sudah setahun menghantui memengaruhi setiap sisi kehidupan, terutama dalam bidang ekonomi. Ribuan manusia tiba-tiba kehilangan sumber penghasilan yang mengharuskan berpikir kreatif guna memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya sebagian ritual keduniawian pra-ramadan pun menguap begitu saja. Ini baiknya disikapi dengan sabar yang ditopang dengan pondasi penerimaan yang kuat.

Kata orang soleh, sabar itu tidak ada batasnya dan belajar untuk menerima hal-hal kurang nyaman dalam bentuk cobaan seperti yang disebutkan di atas merupakan bagian dari proses sabar. Jikalau masih ada resah tertera dalam hati, keruwetan tertanam dalam pikiran maka sudah dipastikan bahwa kita belum berada dalam koridor sabar yang dimaksud. Kata ‘Suci’ yang kerap disandingkan dengan Ramadan bukan tanpa sebab dan tujuan. Pun dengan ibadah puasa yang dilakukan selama 29 atau 30 hari. Semua keberkahan bisa didapatkan di bulan mulia ini dan puasa adalah ibadah yang sangat istimewa, seperti diriwayatkan dalam hadist Bukhari :

Setiap amalan anak Adam itu untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang membalasnya.”

Saya bukan ahli hadist apalagi tafsir, tapi dari kalimat yang luar biasa itu rasanya bisa disimpulkan bahwa ibadah puasa di bulan Ramadan memang punya nilai lebih di mata Allah. Harapan untuk segala kebaikan ditawarkan dengan nyata, termasuk sabar dan ikhlas.

Tapi jika dikaji lebih dalam, hal ini bisa menimbulkan paradoks. Puasa dulu baru sabar atau harus sabar dulu supaya ibadah kita diterima untuk kemudian menjadikan kita manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Menurut saya yang awam, puasa adalah kewajiban yang -sekali lagi- merupakan ibadah mulia di mata Allah dan karena itu selama Ramadan semua muslim berlomba untuk bisa menggapai apa yang dijanjikan. Sementara sabar adalah sesuatu yang untuk saya sama mulianya dan lebih elok rasanya dikejar dan dipertahankan terus menerus dengan tidak melihat waktu tertentu karena sabar bisa jadi penolong kita sebagai mahkluk fana. Hal ini tersirat jelas dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 153.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Saya juga sepakat bahwa bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memulai menerima dan bersabar. Lebih tepatnya, bulan suci ini merupakan waktu yang tepat untuk membentuk batiniah yang sabar dalam menghadapi segala cobaan. Percayalah dengan penerimaan mumpuni yang berkelindan dengan sabar, rasa dan jiwa kita akan nyaman, pikiran selalu tenang, dan hidup lebih indah untuk dijalani.

Pada akhirnya, saya harus bersyukur berterimakasih dengan mengucap Alhamdulillah, karena tanpa hidayah kecerdasan serta nikmat kesehatan dari Allah, saya tidak mungkin bisa membuat tulisan ini. Kemudian kepada Hauritsa, seorang seniman yang membelai-belai saya dengan diksi yang akhirnya memaksa saya untuk meminjam salah satu kutipannya untuk dijadikan judul. Tentu untuk seorang sahabat, Dani Ramdani yang mendorong saya untuk terus berbuat sesuatu. Terimakasih, semoga kita semua lulus dari ujian selama Ramadan dan mendapat rahmat sabar setelahnya.

Artikel : Rizza Hujan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here