B-CHANNEL, SUKARAJA– Hidroponik Lembur Hejo itulah nama yang di sematkan oleh Deby Juliansyah sang pembudidaya sayuran hidroponik yang handal. Deby merupakan warga Kampung Pabuaran Hilir RT. 03, RW 05, Desa Sukatani, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor yang saat ini tengah menekuni bisnisnya dibidang pertanian sayuran hidroponik.
Terwujudnya tanaman hidroponik Deby menuturkan tak lepas dari sebuah doa juga harapan untuk lingkungannya. Tujuannya agar warga bisa memanfaatkan lahan maupun pekarangan rumah untuk penghijauan. Setiap lahan yang ada bisa dimanfaatkan untuk menanam sayuran karena selain lebih produktif hasilnya pun bisa di konsumsi.
“Awalnya saya menekuni hidroponik ketika melihat salah satu temannya yang menekuni hidroponik. Kemudian saya memutuskan untuk melihat langsung dan mencoba secara otodidak dengan memanfaatkan peralatan sederhana dan berhasil pada percobaan pertama,”aku Deby mengungkapkan.
Waktu itu sering lihat status whatsapp temen yang upload foto hidroponik. Kemudian ia mencoba silaturahmi dan melihat-lihat.
“Terus saya coba otodidak dirumah dengan peralatan sederhana, pake botol dan styrofoam bekas dan berhasil. Waktu itu saya coba nanem sayuran kangkung. Dari percobaan pertama itu dengan hasil bagus kemudian saya termotivasi dan saya tekuni hingga saat ini,”ujarnya saat di temui di Green House Hidroponik Lembur Hejo.
Lambat laun, beberapa pemuda dan warga mulai tertarik dengan apa yang dia kerjakan. Hidroponik, bagi pemuda dan warga setempat adalah cara baru dalam dunia pertanian.
“Dari situ saya mulai mengajarkan dan menanam bersama dengan memanfaatkan atap rumahnya sebagai lahan. Ia mulai membuat green house sederhana dengan material bambu yang di tutupi dengan jaring paranet. Untuk pengembangannya, dan pengurus mencoba mengajukan proposal ke Desa dengan bantuan BPD setempat dan mendapatkan respon yang positif,”jelasnya.

Lanjut ia mengatakan, ada 3 green house hidroponik dengan kapasitas kurang lebih 3000 lubang tanam. Saat ini Hidroponik Lembur Hejo fokus membudidayakan 5 jenis sayuran, terdiri dari Pakcoy, Salada Hijau, Salada Merah, Kangkung dan Sawi Pagoda.
Dengan dibantu 2 orang fasilitator yakni Deni (29) dan Vandi (25), setiap harinya mereka merawat dan mengecek sirkulasi pipa air, nutrisi dan kadar PH.
“Hidroponik ini non-pestisida namun masih ada terdapat hama yang menjadi tantangannya. Untuk mengatasinya, saya mengakali dengan meracik pestisida alami dengan memanfaatkan bumbu dapur seperti bawah putih dan bawang merah juga daun sirsak. Efeknya pun cukup berhasil. Karenaini non-pestisida kimia jadi solusi untuk mengatasi hama itu kita buat pestisida yang alami. Kita pakai bawang putih, bawang merah juga daun sirsak dan cukup berhasil.”tuturnl Deby.
Untuk target market, saat ini pembeli masih para warga kampung dan warga perumahan di wilayah daerah terdekat juga reseller yang tergabung dalam Komunitas Koperasi Tani Hidroponik Sejarahtera (Kotahira) yang datang langsung dan mereka jual kembali.
“Kedepannya jika kapasitas sudah bertambah saya akan mencoba untuk menawarkan menjadi vendor bagi rumah makan maupun restoran hotel. Harga yang ditawarkan pun sangat kompetitif. Dengan kualitas sayuran segar dan non-pestisida ini. Mereka mematok harga untuk sayuran Pakcoy Rp.17.000/kg, Selada Hijau Rp.22.000/kg, Salada Merah Rp.25.000/kg, Kangkung Rp.16.000/kg dan Sawi Pagoda Rp.30.000/kg,”ucapnya.
Selain sayuran yang menjadi komoditi ekonomi, Hidroponik Lembur Hejo ini pun menerima pelatihan hidroponik (workshop) maupun kunjungan edukasi dari instansi pendidikan ataupun lainnya dan pesanan pembuatan media tanam/staterkit.
“Harapan kedepan, saya akan memperbaiki dan menambah kapasitas produksi hinga 10 ribu lubang dan merealisasikan penghijauan di kampung ini yang mana setiap rumah bisa memanfaatkan lahan yang ada dengan menanam sayuran agar kampung yang ini bisa menjadi kampung wisata hidroponik,”kata Deby penuh harap.
Reporter: Rifai Malik




No comment