BOGORCHANNEL.ID– Masuknya nama Muzakkir dan Sonny Salimi dalam bursa seleksi Direktur Bisnis dan Pelayanan Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, menarik perhatian publik.
Keduanya bukan ‘orang baru’ dalam ekosistem Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Ya, Muzzakir kita kenal adalah mantan Dirut Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor. Kemudian, Sonny Salimi adalah mantan Dirut PDAM Tirtawening Kota Bandung selama 3 periode.
Fenomena ini menciptakan dinamika kompetisi yang ketat mengingat keduanya memiliki rekam jejak kepemimpinan (track record) yang nyata.
Lalu bagaimana dengan peluang serta kompetensi kedua calon tersebut.
Muzakkir mantan Dirut Perumda Pasar Pakuan Jaya, dikenal sebagai figur yang membawa transformasi digital dan modernisasi pada pasar-pasar tradisional di Bogor.
Kemampuan dalam revitalisasi infrastruktur dan komunikasi publik yang luwes. Selama menjabat di PPJ, ia bisa mengubah citra pasar yang kumuh menjadi lebih tertata (misalnya Pasar Blok F).
Sebagai mantan dirut, maka posisi yang diincar di Direktur Bisnis dan Pelayanan menuntut kreativitas dalam mencari sumber pendapatan baru.
Muzakkir memiliki insting komersial yang kuat untuk memaksimalkan potensi aset daerah.
Terlebih basic dia adalah seorang pengusaha dan juga mantan ketua HIPMI Kota Bogor.
Untuk Sonny Salimi, yang merupakan mantan Dirut PDAM Tirtawening Kota Bandung.
Berbeda dengan Muzakkir, tentu Sonny adalah ‘orang dalam’ yang sudah sangat memahami anatomi teknis dan operasional di perumda air minum.
Bukan hanya satu periode menjadi dirut, tentu Sonny menguasai teknis dan manajerial yang mendalam terhadap layanan air bersih.
Ia juga pasti paham betul mengenai kendala kebocoran pipa (NRW), perluasan cakupan layanan, dan manajemen SDM di internal.
Meski posisi Direktur Bisnis dan Pelayanan ini baru ada di Tirta Pakuan, tentu Sonny tidak perlu memerlukan waktu adaptasi (zero learning curve).
Dalam kacamata profesional, peluang keduanya dapat dilihat dari beberapa sudut pandang.
Peluang kedua kandidat ini sebenarnya sangat bergantung pada visi Wali Kota Bogor Dedie A Rachim selaku Kuasa Pemilik Modal (KPM).
Jika targetnya adalah ekspansi bisnis, menurut saya Muzakkir memiliki peluang lebih besar. Ia bisa membawa perspektif ‘luar’ untuk mengomersialkan layanan Tirta Pakuan di luar sekadar menjual air bersih, misalnya pengelolaan air minum dalam kemasan yang lebih agresif atau optimalisasi aset lahan, serta pengolahan limbah.
Namun jika targetnya adalah stabilitas layanan, Sonny Salimi jauh lebih unggul. Karena, mengelola air adalah bisnis pelayanan publik yang sangat sensitif terhadap gangguan teknis. Pengalamannya bisa juga menjadi jaminan.
Secara objektif, keduanya masuk kandidat ‘kelas berat’. Namun, tantangan bagi Sonny adalah membuktikan bahwa ia masih memiliki ‘nafas baru’ meski kembali ke institusi yang serupa.
Sementara tantangan bagi Muzakkir adalah membuktikan bahwa sejumlah kelihaian mengelola pasar, bisa direplikasi pada industri air yang regulasinya jauh lebih ketat dan teknis.
Pemenangnya kemungkinan besar adalah sosok yang paling mampu menyelaraskan antara target profitabilitas (bisnis) dengan kepuasan pelanggan (pelayanan) dalam paparan uji kelayakan mereka.
Sebagai tindak lanjut, jika kita menelisik lebih dalam mengenai kriteria teknis dalam seleksi Direksi BUMD (khususnya untuk jabatan Direktur Bisnis dan Pelayanan), terdapat tiga pilar utama yang biasanya menjadi batu ujian bagi Muzakkir maupun Sonny Salimi.
Contohnya, pada sesi Uji Kelayakan dan Kepatutan (Fit and Proper Test)
Pada tahap ini, tim penguji yang kabarnya dari unsur akademisi, praktisi, dan birokrat akan membedah makalah visi dan misi.
Muzakkir kemungkinan akan diuji sejauh mana ia memahami Non-Revenue Water (NRW) atau tingkat kebocoran air, karena ini adalah kerugian bisnis utama di Perumda Tirta Pakuan.
Lalu, Sonny Salimi akan ditantang untuk menunjukkan terobosan apa yang belum ia lakukan di periode saat ia memimpin PDAM Kota Bandung.
Penguji akan mencari tahu apakah ia membawa solusi baru atau hanya sekadar melanjutkan pola lama.
Bagi saya, seorang Direktur Bisnis dan Pelayanan harus mampu menjawab sejumlah tantangan. Salah satunya memiliki kemampuan diplomasi stakeholder
Perlu diingat, Perumda Tirta Pakuan melayani kebutuhan dasar masyarakat, sehingga direktur terpilih harus mampu menghadapi dua sisi.
Sisi komersial yaitu menjaga margin keuntungan agar perusahaan tetap sehat dan memberikan PAD (Pendapatan Asli Daerah) ke Pemkot Bogor.
Dan sisi Sosial, menghadapi resistensi masyarakat jika ada penyesuaian tarif atau gangguan distribusi air.
Saya juga memprediksi jika proses seleksi ini mengedepankan profesionalisme murni, maka rekam jejak (portofolio) keberhasilan di jabatan sebelumnya akan menjadi penentu.
Jadi, kita tunggu saja bagaimana nilai dua mantan dirut ini di serangkaian tes. Ditambah, apa ‘selera’ Dedie Rachim’.
Penulis : Roy Andi (Redpel Pakar)
Gambar: Ilustrasi



