Evaluasi Praktik Ekonomi Pancasila Jadi Tema Seminar Nasioanal Dies Natalis IPB ke-55


B-CHANNEL, DRAMAGA – FEM IPB bekerjasama dema dengan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) RI serta Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) mengadakan Diskursus Seminar Nasional dalam rangka memperingati Dies Natalies IPB ke 55 di Auditorium AHN IPB, Dramaga Bogor, Rabu (26/09/18).

Acara mengangkat tema “Evaluasi Praktik Ekonomi Pancasila Pasca 73 Tahun Indonesia Merdeka, menghadirkan pembicara Prof. Didin S. Damanhuri, Dr Arif Budimanta, Dr Fachry Ali, ICMI Orwilsus Bogor serta dari Komite Ekonomi dan Industri Nasional RI, termasuk Rektor IPB.

Ekonom IPB Prof. Didin S.Damanhuri menyatakan, para Founding Fathers bangsa Indonesia telah memikirkan landasan bernegara tidak hanya pada politik, tapi juga ekonomi yang harus dibangun berdasarkan nilai-nilai dan semangat ke Indonesiaan.

Konsep ekonomi kerakyatan ini tertuang dalam pasal 33 UUD 1945, bentuk utama usaha yang diharapkannya adalah koperasi sebagai “soko guru” perekonomian bangsa. Namun, selama 73 tahun ini dalam praktiknya terjadi pasang surut, tarik-menarik dan perdebatan praktik.

“Praktik-praktik Ekonomi Pasar Pancasila yakni pelaku pasar seperti BUMN, Swasta dan Koperasi harus dapat berjalan dalam mekanisme pasar untuk mencapai kemakmuran pertumbuhan ekonomi dengan keadilan sosial atau pemerataan kesejahteraan. Sedangkan agama berfungsi sebagai penjamin akhlak individu, keluarga dan negara, “ungkapnya.

Diacara yang sama, Dr. Arif Budimanta juga mengatakan, bahwa sistem ekonomi pancasila merupakan pengaturan hubungan antar negara dan warganya yang ditujukan untuk memajukan kemanusiaan dan peradaban, memperkuat persatuan nasional melalui proses usaha bersama dan gotong royong dengan melakukan distribusi akses ekonomi secara adil berlandaskan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Kami berharap dengan mengenal praktik-praktik ekonomi pancasila, pemahaman sistem ekonomi pancasila bagi generasi muda semakin meningkat sehingga jati diri sebagai bangsa Indonesia yang besar tetap terjaga ditengah persaingan-persaingan global yang dapat memudarkan nasionalisme.

Sementara itu, Ketua Panitia seminar juga Dosen IPB Prima Gandhi mengingatkan, bahwa manusia Indonesia bukan sekedar manusia ekonomis, tetapi yang dalam kehidupannya berpijak kepada nilai religius, sosial-budaya, kehidupan ekonomi nyata dan tidak bebas nilai.

“Artinya, pilihan ideologi ekonomi Indonesia bertujuan menyejahterakan rakyat Indonesia, sesuai Pasal 33 ayat (1) UUD 1945. Untuk mencapai tujuan tersebut, ekonomi Indonesia selayaknya mengacu kepada nilai dan tradisi yang berkembang di Indonesia, “demikian disampaikan Prima dalam Pers Rilisnya.

Ia menambahkan, perasaan bahagia pada manusia akan tercapai jika standar kebutuhan hidup yang mencakup pangan, papan dan sandang tercukupi. Oleh sebabnya, sistem ekonomi yang dibangun harus berdasarkan semangat dan nilai ke-Indonesiaan.

“Perekonomian Indonesia jangan menganut sistem kapitalis atau sosialis, melainkan harus berdasarkan sistem ekonomi yang berasal dari ruh Pancasila sebagai nilai dasar strategis yang mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia, “ucapnya.

Tingginya nilai gini rasio, lanjutnya, serta ketimpangan ekonomi, nilai hutang luar negeri, keterpurukan nilai mata uang rupiah dan kidakstabilan perekonomian Indonesia, saat ini terjadi akibat negara melupakan praktik ekonomi pancasila yang sudah di cetuskan oleh founding father negara ini.

Reporter: Agus Sudrajat

 

 

Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *